Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Mei 2017

Resensi Kumpulan Cerpen Metafora Padma Karya Bernard Batubara

Haloooo! Entah dapat hidayah dari mana, tetiba aja aku ingin nulis resensi novel dan pas banget sekarang aku baru merampungkan sebuah novel karya salah satu penulis Indonesia. Yap! Kali ini aku mau bahas karya Bernard Batubara dalam kumpulan cerpennya yang berjudul Metafora Padma.
Kumpulan cerpen Metafora Padma

Ohiya sebelumnya aku mau sedikit banyak cerita. Sebenernya aku beli novel ini udah cukup lama, tepatnya tanggal 01 November 2016. Udah lebih dari 6 bulan yang lalu tapi baru dibaca hahaha (memang, aku pemalas banget huhu). Jadi gini, waktu itu ada olshop buku yang lagi diskon besar-besaran dan langsung deh aku tertarik buat beli buku di sana. Awalnya aku bingung mau beli yang mana dan akhirnya aku memutuskan untuk membeli 10  buku (sombong!) dan 3 di antaranya adalah buku karya penulis Bernard Batubara yang berjudul Milana (2013), Surat untuk Ruth (2014), dan Metafora Padma (2016). Kenapa memilih membeli buku Bernard Batubara? Aku sendiri juga ga ngerti. Nama Bernard Batubara sering aku dengar dari teman-teman sejawat dan itu membuatku penasaran (penasaran sama bukunya, maksudnya).
Lebih lanjut, dari ketiga buku itu, cover Surat untuk Ruth-lah yang paling menyita perhatianku, covernya adalah sehelai kemeja flanel berwarna biru cerah yang nampak teronggok begitu saja. Maka dari itu aku memutuskan untuk membaca novel itu lebih dulu. Tapiiii.... sayangnya sangat tidak sesuai ekspetasiku (Maafkan hamba, ini sekadar pendapat. Siap-siap ditimpuk fans Bernard Batubara). Singkat cerita, selepas membaca novel Surat untuk Ruth aku jadi kehilangan selera untuk membaca karya Bernard Batubara yang lainnya. Ga percaya? Coba deh kalian baca dan beri secercah ulasan di sini.
Namun entah kenapa hari ini aku memutuskan untuk membaca karya Bernard Batubara (lagi) yaitu Metafora Padma. Lantas bagaimana dengan buku ini? Kira-kira sama ga yaaa dengan novel sebelumnya yang aku baca? Hahaha maaf yaaa kebanyakan prolog. Yuk langsung dibaca resensinya!

Judul                           : Metafora Padma
Penulis                         : Bernard Batubara
Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama
Editor                          : Siska Yuanita
Desain Sampul            : Eka Kurniawan
Ilustrasi Isi                  : Egha Latoya
Tahun Terbit                : 2016
ISBN                           : 978-602-03-3297-0
Tebal Buku                  : 168 halaman

Buku ini merupakan sebuah kumpulan cerita pendek yang setidaknya memuat 14 cerita di dalamnya, yakni: Perkenalan, Demarkasi, Gelembung, Hanya Pantai yang Mengerti, Rumah, Obat Generik, Percakapan Kala Hujan, Es Krim, Alasan, Metafora Padma, Suatu Sore, Kanibal, Sepenggal Dongeng Bulan Merah, serta Solilokui Natalia. Seperti kumcer pada umumnya, Metafora Padma merupakan judul cerpen kesepuluh yang dijadikan sebagai tajuk buku tersebut.

“Kamu harus tahu, Harumi sayang. Pada zaman ketika kekerasan begitu mudah dilakukan, hal terburuk yang bisa dimiliki seseorang adalah identitas.” – hlm. 9
 
Ilustrasi cerpen Perkenalan
Kalimat tersebut merupakan paragraf pertama yang terdapat dalam pembukaan cerpen Perkenalan sekaligus kata-kata yang menghiasi di bagian belakang cover buku. Kutipan yang merupakan kata-kata terakhir yang diutarakan Bong kepada Harumi, seorang gadis yang jengah dengan masa lalunya yang kelam sebab terjadi pertikaian antaretnis di wilayahnya dan melampiaskannya dengan bercerita melalui tubuh seorang siswa di salah satu sekolah. Saya tak punya tubuh, meski saya punya pesan, ujar Harumi dalam cerpen tersebut.
Selain cerpen Perkenalan, ada beberapa cerpen di Metafora Padma yang aku gemari. Beberapa di antaranya adalah Hanya Pantai yang Mengerti, Suatu Sore, dan Solilokui Natalia.

“Penyelam andal akan berkelana dari satu laut ke laut lain. Tapi seseorang yang jatuh cinta akan selalu kembali ke laut yang sama.” – hlm. 48
 
Ilustrasi cerpen Hanya Pantai yang Mengerti
Kutipan di atas merupakan inti dari perjalanan jalinan cinta Gru dan Rui yang terpatut usia dan status. Gabungan antara kesepian, hening, dan resah yang melahirkan sebuah kondisi untuk melampiaskan amarah dalam pergolakan rumah tangga.

“Manusia takut pada ulat bulu. Manusia takut pada Tuhan. Ulat bulu adalah Tuhan.” – hlm. 118
 
Ilustrasi cerpen Suatu Sore
Premis yang cukup dapat membuat kalian memiringkan kepala ke kanan. Kutipan di atas merupakan cerita absurd nan menggelitik yang terdapat dalam cerpen Suatu Sore. Setidaknya itu pendapatku hehe.

 “Menurutmu,” katanya usai beberapa saat, “kenapa ada banyak agama di dunia ini?”
“Ada banyak binatang dan makanan, kenapa tidak boleh ada banyak agama?” kata Abram. “Manusia selalu butuh alternatif, termasuk cara memandang dan mengenal Tuhan mereka.” – hlm. 155
 
Ilustrasi cerpen Solilokui Natalia
Percakapan antara tokoh Natalia dan Abram dalam cerpen Solilokui Natalia ini bisa dibilang cukup sensitif, sebab memaparkan mengenai pergulatan batin sosok Natalia dalam menimbang suatu agama.
Secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa cerita-cerita yang terkandung di dalam buku tersebut adalah cerita yang miris. Beberapa cerita menyinggung persoalan agama, cinta yang pelik, bahkan mengenai sejarah kelam. Bernard sendiri mengaku bahwa buku ini secara tak langsung mengisyaratkan tentang konflik antaretnis tahun 1997 yang terjadi di Kalimantan Barat.
Hal ini pun terlukis pada bagian gambar cover yang menampakan setangkai bunga Teratai bercorak merah pilu dengan lumuran darah. Padma sendiri di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah semacam bunga Teratai, Seroja, dan Lotus yang merupakan tumbuhan langka yang tidak berbatang atau berdaun, memiliki helai bunga cokelat kemerah-merahan, berukuran besar, serta terlihat seperti tetiba muncul pada batang tumbuhan melilit yang disinggahinya.

Bisa dibilang buku kesembilan karya Bernard Batubara ini sangat jauh berbeda dengan buku yang sebelumnya aku baca. Jauh lebih menyenangkan sebab tidak hanya memuat persoalan cinta FTV seperti Surat untuk Ruth, namun ada hal-hal kecil yang tersirat di dalamnya: sejarah. Pun juga aku senang karena di dalam buku ini terdapat ilustrasi apik karya Egha Latoya di tiap sesi cerpennya. 

Minggu, 08 Januari 2017

Alan dan Langel Bilu

Suatu hari di sebuah rumah yang ada di ujung perumahan Cipulir, terdengar suara gemuruh dari dalam kamar anak laki-laki yang berumur 8 tahun.
          “Ggrrrhhhh... Wussshhh... Wusshhh.... Hiiaaattttttt!!!”
“Astaga Alan, sudah jam berapa sekarang? Anak kecil tidak boleh tidur malam-malam.” ujar seorang wanita dari balik pintu kamar tersebut.
“Iyaaa, Bunda. Sebental lagi yaaa. Ini  Langel Bilunya masih belantem sama monstel Dinosaulus. Bunda jangan belisik, nanti Langel Bilunya ga bisa konsentlasi.”
Yang diajak bicara hanya bisa menggelengkan kepala, lantas dengan sigap memasuki kamar tersebut.
“Sudah jam 10, ayo bereskan mainanmu dan naik ke tempat tidur!”
“Tapi Bundaaaa....”
“Tidak ada tapi-tapian, Alan.”
Tidak ada perlawanan, anak bernama Alan itu hanya bisa merengut dan menuruti semua perintah bundanya. Ia pun bersiap menaiki tempat tidurnya dan membiarkan bundanya membereskan semua mainan yang berserakan di lantai kamar tersebut. Itu merupakan hukuman untuk bundanya yang tega menyuruhnya tidur, pikirnya.
Selepas memasukkan semua mainan Alan ke dalam keranjang mainan, bunda pun menghampiri Alan di tempat tidur, merebahkan selimut bercorak Power Ranger di atas tubuh Alan, dan berkata:
“Jangan merengut gitu dong, sayang. Bukannya bunda melarang kamu bermain, tapi kamu harus tahu waktu. Ini sudah jam 10 malam dan ini waktunya tidur, bukan bermain.”
“Bunda, jahat! Bunda selalu ngelarang aku. Dodo aja nggak pernah dilarang orang tuanya walaupun main sampai tengah malam. Aku benci sama bunda!”
Bunda yang awalnya ingin menjelaskan, kemudian mengurungkan niatnya karena Alan sudah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ya, Alan ngambek, pikirnya. Bunda pun beranjak dari kamar tersebut, dan tak lupa mematikan lampu kamar sebelum menutup pintu.
***

Di sini sesak, tubuhnya tak bisa digerakkan ke mana pun, rasanya kebas dan sakit. Anak itu pun perlahan-lahan membuka matanya. Seketika ia terperanjat saat menyadari tubuhnya tengah tergeletak di atas sebuah meja kayu besar dan diikat sepenuhnya. Mulutnya pun dibekap dengan sehelai kain hitam.
“Arrrgghhh... di mana aku?” ucapnya dalam hati
Tak lama setelah itu, bunyi hentakkan kaki terasa mendekat. Hentakkan kaki itu pasti berasal dari makhluk yang amat besar, sampai-sampai dapat menggoyangkan pijakan di tempat Alan saat ini di sekap.
“Bunda, tolong Alan. Alan takuuuttt...” tutur Alan dalam hatinya. Kali ini sebulir air bening ikut meluncur dari indra penglihatannya.
Bunyi hentakkan kaki itu kini semakin mendekat dan terus mendekat. Pintu di depan mata Alan pun di dobrak hanya dengan satu kali pukulan.
Brraakkkk...!!
Seketika mata Alan membulat begitu mengetahui bahwa makhluk raksasa yang ada di hadapannya adalah Dinosaurus.
“Dinosaulus!” pekik Alan dalam batinnya.
“Hahahaha....jadi ini anak yang berani melawan ibunya sendiri. Kau akan ku jadikan makan malamku hahaha....” kata Dinosaurus seraya membuka kain penutup mulut Alan.
“Tidak! Aku tidak mau! Bundaaa tolong Alaann huhuhu,” tangis Alan pun kini pecah. Ia tidak mau menjadi santapan Dinosaurus tapi ia juga tidak bisa berkutik karena seluruh tubuhnya diikat di atas meja.
Dinosaurus itu tak menghiraukan perkataan Alan, ia mulai mencekik Alan dengan kaki depannya. Air liurnya menetes ke mana-mana akibat seringaiannya yang menakutkan itu. Dan Alan pun kini mulai berontak karena tak bisa bernapas, tapi usahanya sia-sia. Namun, tiba-tiba saja............
Brruuukkkk...!!
“Beraninya kau menyakiti Alan. Lawan aku dulu, Dinosaurus!”
Alan yang masih syok atas apa yang terjadi, kini hanya bisa terpaku menatap sosok yang ada di depan matanya. Langel Bilu!
Setelah melepas ikatan di tubuh Alan, Ranger Biru segera pergi menghampiri Dinosaurus yang sedang terjerembab akibat terkena pukulannya. Namun sebelum itu, Ranger Biru berkata:
“Kau tunggu sini ya, Alan. Aku akan membereskan Dinosaurus itu. Jangan ke mana-mana.”
Alan yang masih terpaku, hanya bisa mengangguk dengan mata berkilauan. Ia tak percaya, Ranger Biru yang biasanya hanya sebuah mainan yang ia mainkan setiap hari, sekarang menjadi nyata! Ranger Biru yang biasanya ia tonton di televisi pada hari Minggu pagi, kini benar-benar ada!
Kemudian Alan tersadar dari lamunannya, di hadapannya kini Ranger Biru sedang melawan Dinosaurus. Sangat seru menonton pertarungan antara Ranger Biru dengan Dinosaurus yang sungguhan, pikir Alan.
“Ayooo, Langel Bilu. Kalahkan Dinosaulus itu. Semangat Langel Bilu...!!” tak henti-hentinya Alan bersorak menyemangati Ranger Biru dengan mata berbinar-binar. Namun, Alan kaget bukan kepalang ketika Dinosaurus berhasil membalas pukulan dari Ranger Biru dan membuatnya terpental.
“Arrrggghhh....” suara Ranger Biru terdengar dari kejauhan.
Dalam keadaan masih tergeletak di atas tanah, Dinosaurus pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia akan menghabisi Ranger Biru dalam satu kali pukulan saja. Ia pun segera menghampiri Ranger Biru.
Alan yang melihat kejadian itu, segera berpikir untuk menyelamatkan Ranger Biru. Langel Bilu tak boleh mati!, batinnya. Ia mencari benda yang sekiranya dapat mengalahkan Dinosaurus itu. Tapi sayangnya, ia tak menemukan apapun di sekelilingnya. Kini, ia pasrah. Namun ketika tak sengaja tangannya menyentuh bagian pinggir celana tidurnya, Alan tahu harus berbuat apa!
***

“Langel Bilu..... awaaassss....!!!!”
Ranger Biru yang tengah memegangi perut akibat terkena pukulan Dinosaurus, berusaha keras untuk menjauh begitu mendengar instruksi dari Alan.
Bug!
Bunyi berdebam terdengar sangat nyaring. Dinosaurus kini telah tergeletak dengan puluhan kelereng disekitarnya. Kelereng-kelereng itu membuatnya tergelincir hingga menabrak dinding raksasa di ujung tempat itu. Dari bekas serpihan dinding yang berserakan, dapat disimpulkan bahwa hantaman antara Dinosaurus dan dinding itu amatlah kuat, sampai-sampai membuat sang Dinosaurus kini tak sadarkan diri.

***

          “Terima kasih, Langel Bilu!” ujar Alan seraya membantu Ranger Biru bangkit dari tempatnya. Sambil menggelengkan kepala, Ranger Biru berkata:
“Aku yang mestinya berterima kasih, Alan! Kau sangat berani melawan Dinosaurus itu walaupun kau tahu itu berbahaya.” ucap Ranger Biru yang masih memegangi perutnya.
Yang diajak bicara hanya bisa tersenyum malu, ia tak menyangka akan dipuji oleh sosok pahlawannya.
“Tapi, Alan.....”
“Ya?”
“Apakah kau telah berkata kasar pada ibumu?”
“B-bagaimana kau tahu, Langel Bilu?”
“Yah, kurasa Dinosaurus mendatangimu karena itu. Ia tidak suka dengan anak yang gemar menyakiti ibunya sendiri. Yaa, itu memang hal baik walaupun menurutku caranya  tidak tepat.”
Dengan tergagap, Alan mengatakan “L-lalu, apakah Dinosaulus itu akan mendatangiku lagi?”
“Kurasa iya,”
Alan yang mendengar jawaban itu hanya bisa terpaku. Ia tak mau menjadi santapan Dinosaurus yang menyeramkan itu. Sekujur tubuhnya dibasahi oleh keringat. Seperti dapat membaca jalan pikiran Alan, Ranger Biru berujar:
“Ada satu cara agar Dinosaurus tidak mengganggumu lagi. Kau harus meminta maaf pada ibumu atas sikap burukmu dan berjanjilah untuk tidak mengulanginya. Jadilah anak yang selalu berlaku terpuji, Alan. Maka semua orang akan menyayangi dan senang berada di dekatmu.”
          “Iyaaa, aku menyesal sudah jahat pada bunda, huhuhu”

***

“Bundaaaaa.....”
“Ya, sayang? Ada apa? Kau nampak sangat bersemangat!”
“Bunda.. Bunda.. Alan ingin minta maaf. Semalam Alan sudah belani melawan bunda, Alan salah bunda huhuhu.”
“Tak apa, sayang. Bunda senang kau sudah mengakui kesalahanmu dan bunda harap kau tidak mengulanginya. Janji?”
“Janji, Bunda!”
“Anak pintar! Ayo sekarang waktunya mandi, bunda sudah siapkan air hangat untukmu.”
Setelah saling menautkan jari kelingking –tanda mereka telah berbaikan, dengan sigap bunda langsung membopong Alan menuju kamar mandi. Di balik pintu kamar mandi pun terdengar suara Alan yang dengan semangat sedang menceritakan mimpinya pada bunda.
“Bunda tahu tidak? Semalam aku dan Langel Bilu sudah mengalahkan Dinosaulus! Awalnya aku di sekap, kemudian Langel Bilu datang menolong. Lalu.....bla...bla...bla...”
Bunda yang sebenarnya agak bingung, hanya bisa menyimak cerita Alan yang penuh antusias itu, dan sesekali membalas dengan “Benarkah?”
***SELESAI***

Jumat, 11 Maret 2016

Ada Dalam Tiada


Sedikit demi sedikit aku mulai lelah
dengan rasa sakit yang sudah biasa ini...
Menekan bahuku sehingga aku terjatuh...
Dunia mengatakan
kalau aku tidak boleh bermimpi...
Bahkan aku tidak diizinkan untuk
memiliki harapan ataupun cintamu...
Dan walau bagaimanapun
aku mencoba untuk menyerah...
Mataku terus saja tertuju padamu
dan terus bermimpi lagi...

            “Hufftt,” aku menghela nafas dan kembali meletakkan pulpenku. Rasanya sudah cukup bergalauria di malam ini. Aku harus tidur. Setidaknya kegalauanku menghasilkan sebuah karya. Yah, walaupun hanya sebait kata.

            Akupun beranjak menuju tempat tidurku. Rasanya nyaman sekali. Empuk. Mungkin aku sudah terlalu lelah dengan semua masalah ini. Entahlah, aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa demi menyelesaikan peliknya persoalan yang sedang menjamahku. Yang bisa kulakukan hanya menikmatinya dalam kegalauan.

***

Pukul 8 pagi.
            Untung saja hari ini hari Minggu dan aku sedang datang bulan, jadi aku tidak perlu bangun pagi untuk shalat Subuh dan pergi kuliah. Tapi sayangnya nanti siang aku harus pergi untuk bekerja partime di sebuah restoran yang ada di mall Central Park. Tidak ada waktu untuk rehat sejenak. Huft.

            “Kikan berangkat dulu ya, Ma.” kataku seraya mencium pipi mama sebelum aku berangkat kerja, setelah itu aku salim pada mama.

            “Hati-hati ya, Sayang. Jangan ngebut naik motornya.” ujar mama yang masih sibuk dengan masakannya di dapur.

            “Iya, Ma. Assalamualaikum.” Sahutku lalu segera berlalu tanpa menunggu balasan salam dari mama.

***
            Di tempat kerja banyak yang mengatakan kalau aku sedari tadi terus melamun. Sampai-sampai managerku sempat menegurku beberapa kali. Aku jadi tidak enak, takut dipecat.

            Kemudian aku mengantarkan pesanan 2 piring sushi, teriyaki, segelas jus orange dan milkshake. Kata sang koki, itu pesanan di meja 03. Aku segera kesana.

            Sesampainya di sana, aku terkejut karena yang berada di meja nomor 03 adalah Haru, mantan pacarku. Dulu, kami sempat merencanakan sebuah pertunangan akan tetapi belum terwujud, hubungan kami berakhir begitu saja, selesai tanpa alasan yang jelas. Itulah sebab mengapa aku belakangan ini sering termenung dan galau karenanya.

            Kulihat di sana ia bersama seorang wanita, tapi siapa? Ada rasa sesak yang mulai menyelimuti. Aku tahu pastinya wanita itu bukan saudaranya. Karena aku mengenal baik setiap anggota keluarga Haru, baik itu saudara kandung ataupun sepupunya. Apa mungkin pacar barunya? Mungkin saja.

            Mau tidak mau aku harus ke sana untuk mengantarkan nampan ini. Aku harus profesional dalam bekerja. Akhirnya aku memberanikan diri mendekat ke meja itu.

            “Permisi, ini pesanannya, Mas.” kataku sedikit lirih.

            “Iya, terima kasih. Taruh saja di situ.” Sambil menunjuk ke arah meja lalu melanjutkan kembali perbincangannya dengan wanita itu. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Dia tak menghiraukanku.

            Aku hanya menangis dalam diam. Dia seakan tak mengenalku atau dia sedang berpura-pura tidak mengenalku karena ada wanita itu? Dengan segera aku menata semua makanan itu kemudian langsung melenggang pergi. Sakit.

***

            Di rumah, aku kembali termenung, tapi yang terpikirkan malah reka ulang kejadian tadi siang di restoran. Aku tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Haru padaku. Dia seenaknya menyudahi hubungan kami tanpa alasan yang pasti. Sayangnya aku sudah terlalu cinta padanya. Aku galau.

            Aku jadi teringat kembali masa dimana ketika aku masih berpacaran dengannya. Dia pernah memberiku seikat bunga mawar berwarna merah pekat dengan sebuah kalung liontin di dalamnya. Dia memakaikannya di leherku yang jenjang.

Pada saat kami pergi liburan ke gunung Emas, dia sengaja memakaikan jaketnya ke tubuhku, katanya agar aku tidak kedinginan. Padahal aku dapat dengan jelas melihat kalau dia sedang menahan dingin yang menusuk di setiap pori-pori kulitnya. Aku terkesima.

            Juga pada saat dia menembakku. Dia menyatakan cintanya di tengah lapangan sekolah, berteriak memanggil-manggil namaku. Saat aku berada dihadapannya. Layaknya seorang arjuna yang terasuki jiwa pujangga, ia membacakan sebuah puisi karyanya sendiri. Puisi yang isinya tertuang semua perasaannya kepadaku. Aku malu sekaligus senang.

            Saat dia mengajakku jalan di sebuah mall kemudian memberikanku sepotong cupcake, dan ketika aku makan, di dalamnya terdapat sebuah cincin. Aku hanya terpaku. Lalu dia memakaikan cincin itu seraya berkata “Kamu mau kan tunangan sama aku?” aku masih ingat betul semuanya.

            Tak terasa ada buliran air bening yang meluncur dari mata kiriku, kemudian menyusul pada mata kanan. Aku ingin kenangan itu kembali lagi. Bukan kenangan yang ada hanya untuk dikenang.

Semua orang memberiku nasihat untuk cepat-cepat move on, tak terkecuali mama. Ini sudah memasuki bulan ke-5 aku putus dengan Haru, tapi aku masih saja merisaukannya. Aku juga tidak tahu kenapa, mungkin karena sudah terlalu cinta.

Setidaknya jika kita tak bisa bersama lagi, aku masih ingin menjalin hubungan baik dengannya. Bukan malah seperti orang yang tak saling mengenal. Bukankah dulu cinta yang sama pernah membuat kita menjadi satu?

Berbagai cara kulakukan untuk melupakannya. Mulai dengan membuat diriku sesibuk mungkin, tapi saking sibuknya aku malah kelelahan dan ketika istirahat, aku malah memikirkannya lagi, dia sedang apa dan di mana. Aku juga sudah mencoba menjalin hubungan pertemanan dengan laki-laki lain yang nampaknya tertarik padaku. Tapi terkadang hal-hal romantis yang mereka lakukan malah membuatku teringat lagi pada Haru. Namanya selalu terngiang ditelingaku. Setiap saat.

Apa yang terjadi padaku? Aku bungkam, tak bisa menjawab. Kurasa cintaku padanya sudah terlalu dalam dan semakin dalam. Bahkan aku bersedia jika dijadikan selingkuhan ataupun istri keduanya kelak. Sepertinya aku sudah mulai gila.

Dan pada saat yang sudah tak dapat ku toleransi lagi, akhirnya aku menciptakan sosok Haru pada setiap laki-laki yang kukenal. Walaupun bukan Haru seutuhnya, setidaknya ada sekilas bayangan Haru yang dapat kulihat setiap saat. Haru yang ada dalam tiada.


“Haruuu...........”

Minggu, 10 Januari 2016

ANTARA CINTA DAN SEBAB

Umumnya laki-laki akan berasumsi bahwa gadis yang ideal adalah dia yang memiliki kepribadian yang baik. Namun, pada kenyataannya banyak yang lebih mengutamakan penampilan fisik di atas segalanya. Kebanyakan lelaki akan langsung terbuai oleh fisik yang mumpuni dari seorang wanita hanya dalam sekali pandang.
Ketika paras cantik dijadikan satu-satunya acuan dan mata menjadi satu-satunya alat indera dalam menilai perempuan, maka itu bukan alasan yang tepat untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap kaum perempuan. Terlalu mendewakan kecantikan seolah tidak ada yang lebih penting daripada itu semua. Mengatasnamakan sesuatu yang pada akhirnya akan luntur dilalap oleh masa.
Tapi sangat disayangkan jika stereotip wanita di zaman sekarang malah menyimpulkan bahwa: cantik itu adalah dia yang berkulit putih, cantik itu adalah dia yang berperawakan kurus, cantik itu adalah dia yang mahkota kepalanya lurus menjuntai, dan segala sesuatu yang hanya berkutat pada fisik saja. Maka berlomba-lombalah para wanita untuk membeli obat pemutih yang menjanjikan putih hanya dalam waktu kurang dari 2 minggu dengan harga murah, bersaing untuk minum pil-pil diet demi merampingkan tubuh agar elok dilihat, dan lain sebagainya. Yang pada akhirnya hanya akan menyiksa para wanita, merusak ciptaan Tuhan yang paling indah, dan yang lebih menyesakkan adalah: belum tentu laki-laki incaranmu beralih jadi tertarik padamu.
Beberapa bulan lalu ketika saya sedang asyik menjelajahi dunia maya, saya menemukan kata-kata yang menyatakan bahwa adanya perbedaan antara laki-laki dan wanita ketika mereka telah usai menjalani hubungan percintaan (dalam konteks ini adalah berpacaran). Ketika seorang laki-laki memutuskan untuk menyudahi hubungan dengan seorang wanita, maka ketika ia menjalin hubungan dengan wanita lain, dia akan segera melupakan wanita sebelumnya. Namun, saat laki-laki tersebut telah menikah, pada saat-saat tertentu ia akan mengingat kejadian-kejadian menyenangkan yang dulu pernah dilalui bersama mantan-mantannya. Lain halnya dengan wanita, ketika wanita menyudahi hubungan dengan seorang lelaki, maka wanita tersebut tidak akan bisa melupakan perasaan terhadap laki-laki tersebut kecuali ada laki-laki lain yang dapat membuatnya jatuh cinta kembali. Dan saat wanita telah jatuh cinta kembali, dia akan benar-benar melupakan laki-laki sebelumnya.
Entah pernyataan ini benar atau tidak. Tapi hal tersebut saya rasakan sendiri. Beberapa tahun lalu saya pernah menjalin hubungan dengan seseorang. Tidak lama, kurang lebih hanya setengah tahun. Tapi sampai saat ini saya belum bisa melupakannya, entah belum bisa melupakan dirinya atau melupakan kenangannya. Sayangnya, setelah hampir 1,5 tahun berlalu, saya masih larut dalam keterpurukan dan dia kini telah bersama wanita lain. Secepat itu. Haha. Lebih baik kita ganti topik(
Ada seorang anonim yang mengatakan bahwa:
“Jika seorang penulis jatuh cinta padamu, maka kau tidak akan pernah mati.”
Maksud kata ‘mati’ di sini bukan dalam arti yang sesungguhnya yaaa, karena seorang penulis juga manusia, jadi ga mungkin bisa bikin orang lain hidup abadi hehe. Dan saya akui kata-kata tersebut jauh lebih romantis dibandingkan setangkai mawar atau boneka teddy bear yang tengah memeluk buntalan berbentuk hati. Mendapat kesempatan untuk dicintai oleh seorang yang puitis memang menyenangkan, dia tidak akan pernah bosan menghadiahi kita dengan berbagai kata-kata yang meneduhkan. Terlebih lagi jika kata-kata tersebut bukan hanya bualan semata.

Aku mencintaimu layaknya senja
yang tiada henti datang,
Namun selalu: kau usir dengan hitamnya malam
Aku mencintaimu layaknya senja
Sebab tidak ada sebab atas kedatanganku
Datang dan pergi digantikan
:matahari dan bintang kegemaranmu
Aku mencintaimu layaknya senja
yang dalam hitungan menit,
Kau redupkan sinarku
Aku mencintaimu layaknya senja
yang tetap tabah hidup di antara
:petang dan malam