Tampilkan postingan dengan label Ulasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulasan. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Juni 2017

ULASAN NOVEL THE 100-YEAR-OLD MAN WHO CLIMBED OUT OF THE WINDOW AND DISAPPEARED KARYA JONAS JONASSON


Judul Buku              : The 100-Year Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared
Penulis                  : Jonas Jonasson
Penerjemah        : Marcalais Fransisca
Penyunting          : Ade Kumalasari
Penerbit               : PT Bentang Pustaka
Halaman               : 508 hlm
Tahun Terbit       : Maret 2016 (Cetakan kedelapan)
ISBN                        : 978-602-291-018-3
Harga                     : Rp 69.000,-

Satu kesalahan fatal yang sebaiknya tidak (dan jangan pernah) dilakukan selepas membuka plastik bening yang membungkus buku dan membaca tidak sampai 3 bagian buku ini adalah jangan membaca bagian epilog: melangkahi serta mendahului segala bagian-bagian sebelumnya yang membangun cerita.
Semua bermula saat nama presiden keenam Indonesia terpampang jelas di bagian epilog, yang (tentu saja) menggugah rasa penasaran saya untuk segera membabat habis buku karya seorang mantan wartawan surat kabar regional Smålandposten dan Expressen, Jonas Jonasson.
Allan Karlsson selaku tokoh utama dalam novel ini adalah anak dari wanita pekerja buruh dan ayahnya seorang pejuang sosialisme di Swedia. Tepat pada tanggal 02 Mei 2005 merupakan hari ulang tahunnya yang keseratus namun justru ialah satu-satunya orang yang tidak berkenan untuk hadir dalam perayaan tersebut. Dan terjadilah aksi melompat keluar jendela kamarnya dari  lantai dasar Rumah Lansia di kota kecil Malmköping.
Kisah perjalanan Allan Karlsson pun dimulai. Ia berjumpa dengan seorang pemuda anggota klub kriminal Never Again yang usianya terlampau 75 tahun lebih muda darinya di Terminal Bus Malmköping. Sang pria berniat menitipkan koper bawaannya kepada Karlsson sebab ia ingin pamit ke toilet namun sampai saat bus datang, pria itu tak kunjung keluar dari toilet. Karlsson pun memutuskan membawa serta koper tersebut bersamanya. Dengan bermodalkan uang 48 krona dan baju yang melekat di tubuhnya: ia naik bus menuju Stasiun Byringe. Dan situlah awal mula petualangan Allan Karlsson yang secara tak langsung mengantarkannya pada cerita masa lalunya sebagai orang berpengaruh di dunia.
Segalanya berawal ketika ayah Allan Karlsson pergi untuk selama-lamanya. Demi menopang roda ekonomi, pada usia 10 tahun ia pun memulai karir sebagai pesuruh bagian produksi di Nitroglycerine, Ltd. Tak lama berselang, 3 tahun kemudian ibunya pun menyusul sang ayah dan Allan mendirikan Karlsson Dynamite Company serta bereksperimen di tambang batu di belakang rumah. Pada usia 13 tahun ia telah menguasai keterampilan khusus membuat ledakan dengan mencampur nitrogliserin, nitrat selulosa, amonium nitrat, sodium nitrat, sekam, dinitrotoluen dan beberapa bahan lainnya.
Karlsson merupakan orang yang sangat berbakat di bidang perakitan bom. Hal inilah yang menjadikannya dapat berpetualang mengelilingi dunia sekaligus berurusan dengan orang-orang berpengaruh di dunia politik seperti Jenderal Franco, Soong May Ling, Truman, Stalin, Mao Tse-tung, Kim Il Sung, dan lain sebagainya. Namun sayangnya Karlsson bukanlah orang yang menyukai politik, –bahkan di beberapa bagian dalam novel pun ia akan secara otomatis berhenti mendengarkan ketika ada orang yang menguliahinya dengan tema politik. Ia juga bukan penganut idealisme maupun ideologi tertentu. Ia hanya sekadar manusia penuh humor yang mahir merakit bom. Ketidaksukaannya terhadap politik dan segala hal yang meliputinya pun selaras dengan kutipan di bawah ini:

“Balas dendam itu seperti politik, satu hal akan diikuti hal lain sehingga yang buruk menjadi lebih buruk dan yang lebih buruk akan menjadi paling buruk.” – Hlm. 89  
Pendeta dan politikus sama buruknya, pikir Allan, dan tidak ada bedanya sedikitpun jika mereka komunis, fasis, kapitalis, atau aliran politik apapun. – Hlm. 170 
Sering kali politik tidak hanya tidak penting, tetapi juga terlalu rumit untuk alasan yang tidak penting. – Hlm. 461

Selanjutnya, seperti yang telah disinggung di bagian awal, Jonas Jonasson juga menjadikan Indonesia sebagai topik pembicaraan di dalam novelnya. Jika anda orang Indonesia, tentu akan sangat merasa antara miris dan jengah dengan penjabaran dunia politik di Indonesia yang dikemukakan secara gamblang oleh sang penulis: tapi akan membenarkan apa yang dikatakannya. Seperti contoh tokoh Ni Wayan Laksmi (Amanda) yang tingkat kecerdasannya disetarakan dengan seekor kodok berniat berkecimpung di dunia politik padahal untuk membedakan antara vodka dan minuman pisang saja tidak bisa, tetapi sangat optimis menjadi gubernur Bali. Ataupun saat Karlsson dan rombongannya ingin berlibur ke suatu negara dengan membawa seekor gajah. Negara Swedia dan Jerman dengan tegas menolak sebab mereka harus memiliki sertifikat kepemilikan dan dokter hewan. Sedangkan Indonesia mengatakan ‘Dokter hewan? Untuk apa?’. Serba-serbi lainnya mengenai Indonesia juga terlukis pada kutipan-kutipan di bawah ini:

Suharto memburu orang-orang yang komunis, dianggap komunis, disangka komunis, kemungkinan komunis, sangat tidak mungkin komunis, dan orang-orang tak bersalah lain. Ini membuat roda ekonomi berputar, orang hidup lebih baik, dan terutama Suharto sendiri menjadi sangat kaya raya. Lumayan juga untuk serdadu yang mengawali karier militernya dengan menyelundupkan gula. –Hlm. 367-368 
 Selain itu, Bali dinilai oleh organisasi-organisasi hak asasi sebagai wilayah paling tidak korup di negara itu. Itu karena Amanda telah menyuap seluruh komisi investigasi. –Hlm. 366 
“Maaf, siapa nama depan Anda , Tuan Dolar?” “Seratus Ribu,” kata Allan. “Saya Tuan Seratus Ribu Dolar, dan saya minta izin untuk mendarat di bandara Anda.” “Maaf, Tuan Dolar, suaranya jelek sekali. Maukah Anda menyebutkan nama depan Anda sekali lagi?” Allan menjelaskan kepada si kapten bahwa petugas sekarang mulai tawar-menawar. “Nama depan saya Dua Ratus Ribu,” kata Allan. “Apa kami boleh mendarat?” –Hlm. 483 
“Indonesia adalah negara di mana segalanya mungkin,” kata Allan. –Hlm. 483

Kemudian setiap merampungkan sebuah novel, setidaknya akan hadir satu –atau lebih tokoh kegemaran, tokoh itu ialah Benny Ljungberg. Entah yaa, tokoh Benny pada novel ini begitu menarik perhatian (terutama bagi saya) karena karakter serta kisah hidupnya yang tak kalah seru dibanding Allan Karlsson. Faktanya, dalam kisah ini ia merupakan tokoh yang paling dapat diandalkan setiap kesulitan menerpa rombongan kriminal Allan Karlsson. Dipaparkan bahwa ia hampir menyelesaikan setidaknya sepuluh gelar akademis yakni dengan menjadi calon dokter hewan, calon dokter, calon arsitek, calon botanis, calon guru bahasa, calon pelatih olahraga, calon ahli sejarah, calon ahli sastra, serta beberapa calon lainnya. Ia juga sempat mengikuti kursus pendek dibeberapa bidang. Namun, meski Benny dapat dikatakan orang yang paling berpendidikan di Swedia, pasar tenaga kerja hanya tertarik dengan hasil nilai akhir ujian, bukan lamanya seseorang belajar. Hal itulah yang kemudian mengantarkan Benny menjadi seorang penjaga kios hot dog sebuah desa kecil di Åker.
Secara keseluruhan, novel ini merupakan novel sejarah yang dikemas dengan humor satir ditiap celah cerita. Tingkah Allan Karlsson yang cerdik dan (terlampau) jenaka tidak akan membuat jenuh ketika membacanya meskipun novel ini terdiri atas lebih dari 500 halaman. Saya pun mengamini komentar Helsingin Sanomat yang pada bagian sampul belakang novel mengatakan bahwasanya novel ini merupakan sebuah perayaan humor yang sangat absurd. Namun dari segi penampilan fisik, agaknya sangat disayangkan sebab kertas yang dipakai untuk halaman isi buku nampak terlalu tipis yang menjadikan saya berasumsi (saat pertama kali membuka buku) bahwa novel ini seperti buku palsu atau bajakan.  Ohiya, hampir terlupa, pada bulan Desember tahun 2013 novel ini juga sempat dialih wahanakan menjadi sebuah film berdurasi 114 menit dengan mengambil judul yang sama dengan novelnya.
Lebih lanjut, seperti yang kita ketahui, umumnya novel terjemahan memang (sangat) melibatkan begitu banyak tokoh demi membangun unsur cerita secara terperinci. Begitu pula dengan novel The 100-Year Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared. Berikut merupakan daftar tokoh yang terlibat dalam novel ini:

1.         Allan Emmanuel Karlsson        : Pria Usia 100 tahun
2.       Paman Carl                                     : Teman Ayah Allan di Lembaga Politik Petrograd
3.       Krook                                                 : Inspektur Polisi Flen
4.        Estebán                                            : Spesialis Penyulut Spanyol
5.       Profesor Bernhard Lundborg: Ahli Biologi Rasial Universitas Uppsala
6.       Harry S. Truman                           : Wakil Presiden Amerika
7.        Presiden Roosevelt                     : Presiden Amerika
8.       Robert Oppenheimer                  : Profesor Fisika dan Ilmuwan Militer
9.       Jenderal Franco                           : Sang Generalissimo
10.      Göran Aronsson                            : Inspektur Kepala Polisi
11.        Per-Gunnar Gerdin (Pike)        : Bos Never Again
12.      Erik Bengt Bylund (Bolt)            : Anggota Never Again
13.      Henrik Mikael Hultėn                  : Anggota Never Again
14.      Caracas                                            : Anggota Never Again
15.      Julius Jonsson                              : Penipu Ulung
16.      Benny Ljungberg                          : Pemilik Kios Hotdog (Mahasiswa Abadi)
17.      Conny Ranelid                                : Jaksa Eskiltuna
18.      Soong May Ling                            : Istri Pemimpin Anti-Komunis Kuomintang
19.      Mao Tse-tung                                : Pemimpin Komunis
20.    Ny. Eleanor Roosevelt               : Istri Presiden Roosevelt
21.      Jiang Qing                                       : Seorang Marxis-Leninis, Istri Ketiga Mao Tse-tung
22.    Ah Ming                                              : Pesuruh
23.    Kamerad Stalin                             : Pimpinan Uni Soviet
24.    Gunilla Björklund (Jelita)          : Pemilik Rumah Pertanian di Lake Farm
25.    Kevin Ferguson                              : Pendeta Angklingan
26.    Winston Churchill                         : Perdana Menteri Inggris
27.    Tage Erlander                                 : Perdana Menteri Swedia
28.    Dr. Siguard Eklund                        : Kepala Riset Atomic Energy PLC
29.    Yury Borisovich Popov               : Ahli Fisika Nuklir
30.    Larissa Aleksandrevna               : Istri Yury B. P.
31.      Marsekal Lavrenty P. Beria      : Bos Keamanan Soviet
32.    Herbert Einstein                             : Adik Tiri Albert Einstein
33.    Bosse Baddy                                     : Kakak Benny Ljungberg
34.    Frank (Frasse)                                 : Paman Benny dan Bosse
35.    Gunnar Löwenlind                           : Wakil Kepala Polisi Jönköping
36.    Kirill A. Maretskov                          : Komandan Pasukan Merah
37.    Kim Il Sung                                         : Perdana Menteri Korea Utara
38.    Kim Jong Il                                         : Anak Kim Il Sung
39.    Ni Wayan Laksmi (Amanda)        : Istri Herbert Einstein
40.    Lyndon B. Johnson                          : Presiden Amerika
41.      Fouchet                                                 : Menteri Dalam Negeri Prancis
42.    Charles A. J. Marie de Gaulle     : Presiden Prancis
43.    Claude Pennant                                 : Mata-mata Uni Soviet
44.     Ryan Hutton                                       : Direktur CIA Eropa
45.    Ronny Bäckman                                : Pawang Anjing
46.    Richard M. Nixon                              : Presiden Amerika Serikat
47.     Henrik Söder                                     : Petugas Dinas Sosial
48.    Soekarno                                             : Presiden Indonesia Pertama
49.    Soeharto                                              : Presiden Indonesia Kedua
50.    Susilo Bambang Yudhoyono       : Presiden Indonesia Keenam

Minggu, 07 Mei 2017

Resensi Kumpulan Cerpen Metafora Padma Karya Bernard Batubara

Haloooo! Entah dapat hidayah dari mana, tetiba aja aku ingin nulis resensi novel dan pas banget sekarang aku baru merampungkan sebuah novel karya salah satu penulis Indonesia. Yap! Kali ini aku mau bahas karya Bernard Batubara dalam kumpulan cerpennya yang berjudul Metafora Padma.
Kumpulan cerpen Metafora Padma

Ohiya sebelumnya aku mau sedikit banyak cerita. Sebenernya aku beli novel ini udah cukup lama, tepatnya tanggal 01 November 2016. Udah lebih dari 6 bulan yang lalu tapi baru dibaca hahaha (memang, aku pemalas banget huhu). Jadi gini, waktu itu ada olshop buku yang lagi diskon besar-besaran dan langsung deh aku tertarik buat beli buku di sana. Awalnya aku bingung mau beli yang mana dan akhirnya aku memutuskan untuk membeli 10  buku (sombong!) dan 3 di antaranya adalah buku karya penulis Bernard Batubara yang berjudul Milana (2013), Surat untuk Ruth (2014), dan Metafora Padma (2016). Kenapa memilih membeli buku Bernard Batubara? Aku sendiri juga ga ngerti. Nama Bernard Batubara sering aku dengar dari teman-teman sejawat dan itu membuatku penasaran (penasaran sama bukunya, maksudnya).
Lebih lanjut, dari ketiga buku itu, cover Surat untuk Ruth-lah yang paling menyita perhatianku, covernya adalah sehelai kemeja flanel berwarna biru cerah yang nampak teronggok begitu saja. Maka dari itu aku memutuskan untuk membaca novel itu lebih dulu. Tapiiii.... sayangnya sangat tidak sesuai ekspetasiku (Maafkan hamba, ini sekadar pendapat. Siap-siap ditimpuk fans Bernard Batubara). Singkat cerita, selepas membaca novel Surat untuk Ruth aku jadi kehilangan selera untuk membaca karya Bernard Batubara yang lainnya. Ga percaya? Coba deh kalian baca dan beri secercah ulasan di sini.
Namun entah kenapa hari ini aku memutuskan untuk membaca karya Bernard Batubara (lagi) yaitu Metafora Padma. Lantas bagaimana dengan buku ini? Kira-kira sama ga yaaa dengan novel sebelumnya yang aku baca? Hahaha maaf yaaa kebanyakan prolog. Yuk langsung dibaca resensinya!

Judul                           : Metafora Padma
Penulis                         : Bernard Batubara
Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama
Editor                          : Siska Yuanita
Desain Sampul            : Eka Kurniawan
Ilustrasi Isi                  : Egha Latoya
Tahun Terbit                : 2016
ISBN                           : 978-602-03-3297-0
Tebal Buku                  : 168 halaman

Buku ini merupakan sebuah kumpulan cerita pendek yang setidaknya memuat 14 cerita di dalamnya, yakni: Perkenalan, Demarkasi, Gelembung, Hanya Pantai yang Mengerti, Rumah, Obat Generik, Percakapan Kala Hujan, Es Krim, Alasan, Metafora Padma, Suatu Sore, Kanibal, Sepenggal Dongeng Bulan Merah, serta Solilokui Natalia. Seperti kumcer pada umumnya, Metafora Padma merupakan judul cerpen kesepuluh yang dijadikan sebagai tajuk buku tersebut.

“Kamu harus tahu, Harumi sayang. Pada zaman ketika kekerasan begitu mudah dilakukan, hal terburuk yang bisa dimiliki seseorang adalah identitas.” – hlm. 9
 
Ilustrasi cerpen Perkenalan
Kalimat tersebut merupakan paragraf pertama yang terdapat dalam pembukaan cerpen Perkenalan sekaligus kata-kata yang menghiasi di bagian belakang cover buku. Kutipan yang merupakan kata-kata terakhir yang diutarakan Bong kepada Harumi, seorang gadis yang jengah dengan masa lalunya yang kelam sebab terjadi pertikaian antaretnis di wilayahnya dan melampiaskannya dengan bercerita melalui tubuh seorang siswa di salah satu sekolah. Saya tak punya tubuh, meski saya punya pesan, ujar Harumi dalam cerpen tersebut.
Selain cerpen Perkenalan, ada beberapa cerpen di Metafora Padma yang aku gemari. Beberapa di antaranya adalah Hanya Pantai yang Mengerti, Suatu Sore, dan Solilokui Natalia.

“Penyelam andal akan berkelana dari satu laut ke laut lain. Tapi seseorang yang jatuh cinta akan selalu kembali ke laut yang sama.” – hlm. 48
 
Ilustrasi cerpen Hanya Pantai yang Mengerti
Kutipan di atas merupakan inti dari perjalanan jalinan cinta Gru dan Rui yang terpatut usia dan status. Gabungan antara kesepian, hening, dan resah yang melahirkan sebuah kondisi untuk melampiaskan amarah dalam pergolakan rumah tangga.

“Manusia takut pada ulat bulu. Manusia takut pada Tuhan. Ulat bulu adalah Tuhan.” – hlm. 118
 
Ilustrasi cerpen Suatu Sore
Premis yang cukup dapat membuat kalian memiringkan kepala ke kanan. Kutipan di atas merupakan cerita absurd nan menggelitik yang terdapat dalam cerpen Suatu Sore. Setidaknya itu pendapatku hehe.

 “Menurutmu,” katanya usai beberapa saat, “kenapa ada banyak agama di dunia ini?”
“Ada banyak binatang dan makanan, kenapa tidak boleh ada banyak agama?” kata Abram. “Manusia selalu butuh alternatif, termasuk cara memandang dan mengenal Tuhan mereka.” – hlm. 155
 
Ilustrasi cerpen Solilokui Natalia
Percakapan antara tokoh Natalia dan Abram dalam cerpen Solilokui Natalia ini bisa dibilang cukup sensitif, sebab memaparkan mengenai pergulatan batin sosok Natalia dalam menimbang suatu agama.
Secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa cerita-cerita yang terkandung di dalam buku tersebut adalah cerita yang miris. Beberapa cerita menyinggung persoalan agama, cinta yang pelik, bahkan mengenai sejarah kelam. Bernard sendiri mengaku bahwa buku ini secara tak langsung mengisyaratkan tentang konflik antaretnis tahun 1997 yang terjadi di Kalimantan Barat.
Hal ini pun terlukis pada bagian gambar cover yang menampakan setangkai bunga Teratai bercorak merah pilu dengan lumuran darah. Padma sendiri di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah semacam bunga Teratai, Seroja, dan Lotus yang merupakan tumbuhan langka yang tidak berbatang atau berdaun, memiliki helai bunga cokelat kemerah-merahan, berukuran besar, serta terlihat seperti tetiba muncul pada batang tumbuhan melilit yang disinggahinya.

Bisa dibilang buku kesembilan karya Bernard Batubara ini sangat jauh berbeda dengan buku yang sebelumnya aku baca. Jauh lebih menyenangkan sebab tidak hanya memuat persoalan cinta FTV seperti Surat untuk Ruth, namun ada hal-hal kecil yang tersirat di dalamnya: sejarah. Pun juga aku senang karena di dalam buku ini terdapat ilustrasi apik karya Egha Latoya di tiap sesi cerpennya. 

Rabu, 19 April 2017

KEBIJAKSANAAN TANPA ARTI DALAM NASKAH MASTODON DAN BURUNG KONDOR KARYA W.S. RENDRA

Dalam dunia kesusastraan Indonesia, siapa yang tidak mengenal sosok Willibrordus Surendra Bawana Rendra atau yang lebih akrab dikenal dengan sebutan W.S. Rendra. Sastrawan yang sejak duduk di bangku SMP telah menulis berbagai macam karya sastra; seperti puisi, cerita pendek, serta naskah drama. Dari sekian banyak karya sastra yang ia tulis, terutama karya drama, salah satu naskah W.S. Rendra yang fenomenal adalah naskah Mastodon dan Burung Kondor.

Naskah ini pertama kali dipentaskan oleh Bengkel Teater Yogyakarta pada 15 Desember 1973 yang berdasarkan pada naskah yang belum diterbitkan dan tersimpan di Bank Naskah Dewan Kesenian Jakarta dan disutradai sendiri oleh sang sastrawan. Namun, pada Januari tahun 2012 naskah drama ini kembali dipentaskan di Universitas Padjajaran dan disutradai langsung oleh istri mendiang W.S. Rendra, Ken Zuraida.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah Mastodon sendiri memiliki arti binatang purba yang merupakan mamalia raksasa, sesuatu yang serba besar. Hal ini dijadikan Rendra sebagai umpama atas pemerintahan di negara tersebut yang selalu berkata akan mengatasnamakan kepentingan rakyat untuk pembangunan negara namun kenyataannya tidak sesuai. Sedangkan burung Kondor sendiri memiliki arti burung buas besar di pegunungan Andes dengan leher dan kepala tidak berbulu. Dalam naskah ini, burung Kondor dijadikan sebagai simbol rakyat negara tersebut yang menderita akibat terkekang aturan dan kebijaksanan yang dibuat oleh pemerintah. Dua hal yang digambarkan saling bertentangan dan berbeda ideologi.
Dalam naskah ini, diceritakan seorang mahasiswa bernama Juan Frederico yang penuh dengan idealisme, bersama dengan rekan-rekannya sesama mahasiswa bertekad untuk melakukan perubahan terhadap bangsanya. Mereka menentang sistem pemerintahan yang ada dinegaranya, sistem yang hanya menguntungkan kalangan atas namun terus-menerus menggadangkan kesejahteraan bersama demi pembangunan. Lebih lanjut, Juan Frederico bersama rekan-rekannya menyusun strategi dengan merekrut Jose Karosta untuk melakukan aksi untuk menjaga semangat massa dengan membuat sajak-sajak dan syair pergerakan.
Juan Frederico mengkritik bahwa selama ini kampusnya hanya mendidik untuk mencetak generasi yang hanya manut pada sistem dan kebijaksanaan pemerintah dan tidak diberikan kebebasan mengkritik untuk hal yang lebih baik kedepannya, pemerintah malah menganggap itu sebagai sebuah ancaman dan pemberontakan. Di kampus tidak pernah diajarkan nilai-nilai untuk menyusun kebijakan, mengolah kebijakan, serta menguji kebijaksanaan. 3 hal yang dapat membuat kalangan mahasiswa menjadi pandai mengkritik dalam hal yang positif untuk kedepannya. Kebebasan berpendapat pun tidak dihiraukan. Maka dari itu, Juan Frederico bersama rekan-rekannya sesama mahasiswa yang berasal dari berbagai provinsi, menjadi utusan dari rakyat sebagai wakil pendobrak revolusi kekuasaan di negaranya.
Salah satu orang dibalik kekuasaan pemerintahan adalah Max Carlos, yaitu seorang pemimpin yang tengah berada dalam masa jayanya. Kejayaan yang harus dibayar dengan penderitaan dan kekacauan rakyat jelata. Pembangunan pabrik yang diusulkan akan mengurangi jumlah pengangguran, tak khayal hanya sebuah pemanis bibir belaka. Diceritakan bahwa Max Carlos menangkap dan memenjarakan Jose Karosta dengan alih-alih karena Jose Karosta telah mengganggu semangat berjuang untuk pembangunan dengan sajak-sajak dan syair yang dibuatnya.
.           Jose Karosta merupakan sosok yang dengan keras menolak adanya lembaga-lembaga agama yang hanya menjadi lahan bisnis dibalik sabda-sabda agung yang diujarkan. Sosok Jose Karosta merupakan salah satu dari simbol burung Kondor yang menjadi saksi atas kekacauan yang terjadi di negaranya. Dengan sajak-sajak dan syairnya, ia menawarkan nilai-nilai kemanusiaan untuk mengobarkan semangat dan membuat ‘melek’ masyarakatnya tentang kesadaran agar seluruh masyarakat sadar atas apa yang terjadi di negaranya. Tidak diam saja dan lantas bergerak menuju perubahan.
Lebih lanjut, terjadinya perbedaan pendapat antara Jose Karosta dengan Juan Frederico. Jose Karosta mengatakan bahwa yang harus dimiliki masyarakatnya adalah kematangan kesadaran akan sebuah perubahan. Revolusi memang penting, tapi awal mulanya harus didahului dengan kesadaran mutlak oleh seluruh masyarakat. Menurutnya, revolusi dapat mengakibatkan kerugian besar baik di bidang ekonomi maupun sosial. Seperti terjadinya kerusuhan di mana-mana, tempat tinggal masyarakat yang habis ditelan si jago merah, ketakutan di sana-sini, lumpuhnya sebagian sumber penggerak perekonomian masyarakat, dan lain sebagainya. Hal itu menjadi bayaran yang tidak sepadan untuk sebuah revolusi karena dibutuhkan waktu yang lama untuk membuat semua kembali ke kehidupan normal kembali.
Lain halnya dengan Juan Frederico yang menganggap bahwa yang dibutuhkan negara mereka saat ini adalah sebuah revolusi. Revolusi menjadi satu-satunya pilihan yang tepat untuk membawa perubahan bagi bangsanya ke arah yang jauh lebih baik lagi. Juan Frederico dan rekan-rekannya sesama mahasiswa menamakannya dengan sebutan Revolusi Semesta Bersatu.
Walaupun naskah ini telah dibuat lebih dari 40 tahun silam, namun penceritaannya masih sangat relevan dengan keadaan bangsa Indonesia pada saat ini. Cerita Mastodon dan Burung Kondor seakan-akan menjadi cerminan atas apa yang tengah terjadi di Indonesia. Dialog-dialog yang terpampang dalam naskah tersebut merupakan teguran kepada para penguasa pemerintahan agar lebih peka terhadap segala sesuatu yang dirasakan oleh rakyatnya. Seperti pada Mei tahun 1998, Indonesia mengalami penggulingan kekuasaan karena kekecewaan rakyat Indonesia terhadap sistem pemerintahan pada zaman tersebut. Krisis moneter yang terjadi, korupsi yang semakin menjalar, tingkat kesejahteraan yang kian hari makin menyedihkan, dan lain sebagainya. Sebuah peringatan besar terhadap orang-orang pemerintahan agar benar-benar memperjuangkan kesejahteraan seluruh rakyat yang diwakilinya.

Selasa, 26 Januari 2016

Ulasan THE CONFESSION by John Grisham

Judul                : The Confession
Penulis             : John Grisham
Copyright        : 2010 by Belfry Holdings, Inc.
Ahli Bahasa     : Julanda Tantani
Desain Sampul : Eduard Iwan Mangopang
Penerbit            : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun               : 2013
ISBN                : 978 602 03 0044 3
Tebal Buku      : 688 halaman

Dalam novel ini, setidaknya terdapat semacam 3 babak pemfokusan masalah yang terdiri atas:
Bagian Pertama  : Kejahatan (Bab 1 s/d 15)
Bagian Kedua     : Hukuman (Bab 16 s/d 29)
Bagian Ketiga     : Pencabutan Keputusan Bersalah (Bab 30 s/d 43)

Diskriminasi antara ras kulit putih dengan ras kulit hitam bukanlah merupakan hal aktual yang ada di negara Paman Sam, Amerika. Hal ini telah terjadi puluhan tahun lalu namun hal tersebut masih menjadi momok yang miris, bahkan hingga sekarang. Aspek-aspek yang terdiri atas terjadinya perbedaan dari segi kemiskinan, pendidikan, tingkat kemakmuran, risiko dibui, dan lain sebagainya. Angka kemiskinan yang didominasi oleh orang kulit hitam, pengucilan yang didapat dengan pendidikan terpisah antara kulit hitam dengan kulit putih dan rendahnya statistik angka orang kulit hitam yang berkuliah, juga tingkat kemakmuran orang kulit hitam yang dari segi pendapatan jauh dibawah orang kulit putih, serta tingginya peluang orang kulit hitam yang berisiko dibui.
Berangkat dari profil sang penulis yang memang merupakan pengacara hukum pidana dan perdata lulusan sekolah hukum Universitas Mississippi, novel The Confession mengambil tema mengenai diskriminasi yang terjadi antara kulit hitam dan kulit putih yang ada di Amerika dan memfokuskan pada permasalahan mengenai kasus pembunuhan seorang remaja pemandu sorak bernama Nicole Yarber (17 tahun).
Bermula dari kedatangan seorang penjahat kambuhan, Travis Boyette, yang menemui seorang pendeta Lutheran untuk menceritakan keresahannya karena telah melakukan banyak perbuatan buruk dan tak mau membawa serta dosa tersebut ke liang kubur karena dia telah didiagnosis mengidap tumor otak glioblastoma stadium 4. Travis mengaku telah terjadi kekeliruan atas kasus pembunuhan seorang remaja pemandu sorak, Nicole Yarber yang ditujukan pada seorang kulit hitam bernama Dontē Drumm (19 tahun) pada tahun 1999 di Slone, Texas. Dia mengatakan bahwa Dontē Drumm sama sekali tidak ada kaitannya atas kasus tersebut, dan pembunuh yang sesungguhnya adalah dirinya. Singkat cerita, Keith –sang pendeta– yang mendengar hal tersebut merasa jiwanya terpanggil untuk mengungkapkan hal yang sebenarnya karena akan ada eksekusi mati pada hari Kamis (saat itu hari Senin). Dan tentunya sebagai seorang pendeta, dia tidak akan duduk diam melihat orang yang tidak bersalah akan menjalani eksekusi mati padahal dia tahu siapa pelaku yang sebenarnya.
Pada bagian pertama, novel ini memaparkan tentang sesuatu yang terjadi dibalik pengakuan yang dituturkan oleh Dontē Drumm. Aneh, bukan? Dontē Drumm yang sama sekali tidak bersalah namun mengakui telah membunuh Nicole Yarber, hal yang tidak pernah dilakukannya.
Ada kutipan yang menurut saya merupakan inti dari novel ini. kutipan yang dilontarkan oleh Hakim Elias Henry ketika sedang berdialog dengan Paul Koffee di halaman 640.
“Semua orang pernah sembrono. Pekerjaan kepolisian yang buruk. Ketika bukti-bukti tak bisa didapatkan, cara tergampang untuk memecahkan sebuah kasus kejahatan adalah dengan mendapatkan pengakuan.”
Hal inilah yang menjadi sebab akibat terjadinya kekeliruan atas dakwaan kepada Dontē Drumm. Gubernur TexasGill Newton bersama dengan Barry Ringfield dan Wayne Wallcott selalu mendukung hukuman eksekusi mati hanya karena memiliki kepentingan khusus untuk mendapatkan suara masyarakat dalam pemilihan selanjutnya. Sementara jaksa penuntut umum Paul Koffee, detektif Drew Kerber, dan hakim Vivian Grale yang terdesak untuk menemukan siapa pelaku atas pembunuhan Nicole Yarber, malah memanipulasi hasil penyelidikan dan menetapkan Dontē Drumm sebagai terdakwa tunggal. Karena hal tersebut, Dontē Drumm harus mendekam dan mengalami pengucilan di penjara selama 9 tahun dan berakhir pada eksekusi mati.
Yang menarik dari novel ini adalah saat penulis menceritakan bagaimana perjuangan Robbie Flak serta rekan-rekan biro hukumnya yang tidak pantang menyerah untuk membebaskan Dontē Drumm atas tuduhan yang ditujukan padanya selama lebih dari 9 tahun, mulai saat hari pertama Dontē Drumm tertangkap (yang merupakan hari ke-18 setelah Nicole Yarber dinyatakan hilang) sampai akhirnya Dontē Drumm meninggal akibat 3 suntikan dengan dosis yang berbeda dalam urutan cepat. Berawal dari sodium thiopental (pembius kuat), kemudian pancuronium bromide (pelemas otot), dan yang terakhir adalah potassium chloride yang menghentikan jantungnya. Juga perjalanan pendeta Keith Schroeder yang membawa Travis Boyette menuju Texas. Perjalanan panjang dan mengerikan karena harus semobil dengan penjahat kambuhan yang memiliki daftar panjang atas tindak kriminal yang telah diperbuat.
Yang membuat saya greget pada novel ini adalah ketika Dontē Drumm benar-benar dinyatakan telah meninggal. Seperti kebanyakan pembaca lainnya, tentunya saya mengharapkan akan mendapati cerita tersebut dengan happy ending. Saya pastikan kalian akan sependapat dengan saya jika telah membaca bagaimana perlakuan yang didapatkan oleh Dontē Drumm, mulai dari diwawancarai sebagai terdakwa sampai di eksekusi mati. Ketidakadilan yang merusak fisik maupun mentalnya. Saya berangan-angan jika eksekusi mati Dontē Drumm dibatalkan karena pelaku sesungguhnya telah ditemukan. Namun, sang penulis melakukan hal yang lain. Dan pada akhirnya Dontē Drumm benar-benar meninggal diusia 27 tahun.
Lebih dari itu, tampaknya penulis masih menggantung beberapa hal yang harus diselesaikan oleh masing-masing imajinasi pembaca. Ketika akhirnya Travis Boyette berakhir di rumah sakit karena berusaha melakukan tindak seksual kepada seorang wanita. Dan sampai diakhir cerita pun, dia belum meninggal. Travis Boyette memang mengidap penyakit tumor otak tapi bukan glioblastoma stadium 4 melainkan meningioma stadium 1. Juga terhadap Gubernur Texas, Gill Newton yang pada akhir cerita malah melarikan diri ke Irak. Yap, orang-orang jahat memang selalu beruntung! Tidak ada karma yang nampaknya menimpa para tokoh antagonis dalam cerita ini, atau mungkin belum dan baiknya dilanjutkan oleh pembaca dengan versinya masing-masing seperti yang saya ujarkan sebelumnya.
Nah, di dalam novel ini ada cukup banyak tokoh yang terlibat dalam permasalahan yang diangkat oleh sang penulis. Berikut merupakan nama tokoh serta peranannya dalam novel The Confession by John Grisham:

Dontē Drumm             : Terdakwa tunggal
Travis Boyette             : Penjahat kambuhan dan pelaku sebenarnya
Nicole Yarber              : Korban sekaligus teman sekelas Dontē Drumm
Torrey Pickett              : Teman baik Dontē Drumm
Keith Schroeder          : Pendeta Gereja Metodis Lutheran St. Mark
Dana Schroeder           : Istri Keith Schroeder
Robbie Flak                 : Pengacara Dontē Drumm
DeDe                           : Kekasih Robbie Flak
Fred Pryor                   : Detektif swasta dari Tim pembela Dontē Drumm
Martha Handler           : Paralegal di biro hukum Mr. Flak
Aaron Rey                   : Paralegal di biro hukum Mr. Flak
Sammie Thomas         : Paralegal di biro hukum Mr. Flak
Carlos                          : Paralegal di biro hukum Mr. Flak
Bonnie                         : Paralegal di biro hukum Mr. Flak
Fanta                            : Resepsionis di biro hukum Mr. Flak
Dr. Kristina Hinze       : Psikiater klinis
Riley                            : Ayah Dontē Drumm
Roberta Drumm           : Ibu Dontē Drumm
Marvin                         : Kakak laki-laki Dontē Drumm
Cedric                          : Kakak laki-laki Dontē Drumm
Andrea Bolton             : Adik perempuan Dontē Drumm
Matthew Burns            : Jaksa penuntut umum di Topeka
Harris Rooney             : Wali Kota Slone
Joe Radford                 : Kepala Polisi Slone
Johnny Canty               : Pendeta keluarga Dontē Drumm (Gereja Metodis Bethel)
Cliff Yarber                 : Ayah kandung Nicole Yarber
Wallis Pike                  : Ayah tiri Nicole Yarber
Reeva                          : Ibu Nicole Yarber
Brother Ronnie           : Pendeta keluarga Nicole Yarber
Joey Gamble               : Mantan pacar Nicole Yarber
Sean Fordyce               : Reporter talkshow ‘Menggebrak Keras!’
Gill Newton                 : Gubernur Texas
Barry Ringfield            : Rekan Gill Newton
Wayne Wallcott           : Rekan Gill Newton
Paul Koffee                  : Pengacara dan Jaksa penuntut umum
Drew Kerber                : Kepala detektif departemen kepolisian Slone
Jim Morrisey                : Rekan Drew Kerber di departemen kepolisian Slone
Vivian Grale                 : Hakim pengadilan kasus Dontē Drumm
Ferguson                       : Detektif ahli poligraf departemen kepolisian Slone
Elias Henry                   : Hakim
Hubert Lamb and Son  : Pengurus jenazah Dontē Drumm
Milton Prudwole          : Hakim kepala
Mr. Emerson Pugh       : Pegawai kepaniteraan pengadilan
Weshler and Giles        : Polisi negara bagian Missouri
Elmo Laird                   : Pengacara sekaligus praktisi tunggal kantor hukum di wilayah Topeka
Ms. Eliza Keene           : Wartawan di Houston Chronicle
Lazarus Flint                : Pengawas hutan di Texas Timur
Simon Priester              : Uskup
Terry Mueller               : Direktur eksekutif HHMTex

Sebenarnya masih ada beberapa nama yang terdapat dalam kasus pada novel ini namun tidak saya cantumkan karena keterlibatannya yang tidak terlalu mencolok dan hanya muncul satu-dua kali dalam cerita.
Dan buat kalian yang [terima kasih] sudah baca ulasan novel ini, saya sangat merekomendasikan untuk membaca novelnya. Ketika membacanya, kalian akan di ajak untuk menjelajahi kasus pembunuhan Nicole Yarber yang sebenar-benarnya. Dan jangan khawatir, secara tak langsung sang penulis telah menyisipkan berbagai ilmu baru untuk kita. Terutama bagi saya yang memang sangat awam dalam hal hukum dan masalah pengadilan. Dalam novel ini, kita akan belajar bagaimana hukum bertindak, bagaimana unsur politik dapat mendominasi penyelesaian sebuah kasus, bagaimana perjuangan gigih seorang pengacara dan keberanian seorang pendeta demi menyelamatkan sebuah nyawa manusia.
Selain The Confession, masih ada banyak lho karya fiksi karya John Grisham, di antaranya adalah A Time To Kill, The Firm, The Pelican Brief, The Client, The Chamber, The Rainmaker, The Runaway Jury, The Partner, The Street Lawyer, The Testament, The Brethren, A Painted House, Skipping Christmas, The Summons, The King of Trots, Bleachers, The Last Juror, The Broker, The Innocent Man, Playing for Pizza, The Appeal, The Associate, Ford Country, Theodore Boone: Kid Lawyer. Dan yang paling menyedihkan adalah dari sekian banyak karangannya, baru The Confession yang saya khatamkan >.<
Dan buat kalian yang mungkin sudah pernah membaca novel ini juga, yuk sharing dengan memberikan komentar di postingan ini. Ohiya kalo kamu punya buku atau link e-book dari John Grisham, tolong beri komentar juga yaa hehe. At last, thank you so much and see you^^