Tampilkan postingan dengan label sastra dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra dunia. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Juni 2017

ULASAN NOVEL THE 100-YEAR-OLD MAN WHO CLIMBED OUT OF THE WINDOW AND DISAPPEARED KARYA JONAS JONASSON


Judul Buku              : The 100-Year Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared
Penulis                  : Jonas Jonasson
Penerjemah        : Marcalais Fransisca
Penyunting          : Ade Kumalasari
Penerbit               : PT Bentang Pustaka
Halaman               : 508 hlm
Tahun Terbit       : Maret 2016 (Cetakan kedelapan)
ISBN                        : 978-602-291-018-3
Harga                     : Rp 69.000,-

Satu kesalahan fatal yang sebaiknya tidak (dan jangan pernah) dilakukan selepas membuka plastik bening yang membungkus buku dan membaca tidak sampai 3 bagian buku ini adalah jangan membaca bagian epilog: melangkahi serta mendahului segala bagian-bagian sebelumnya yang membangun cerita.
Semua bermula saat nama presiden keenam Indonesia terpampang jelas di bagian epilog, yang (tentu saja) menggugah rasa penasaran saya untuk segera membabat habis buku karya seorang mantan wartawan surat kabar regional Smålandposten dan Expressen, Jonas Jonasson.
Allan Karlsson selaku tokoh utama dalam novel ini adalah anak dari wanita pekerja buruh dan ayahnya seorang pejuang sosialisme di Swedia. Tepat pada tanggal 02 Mei 2005 merupakan hari ulang tahunnya yang keseratus namun justru ialah satu-satunya orang yang tidak berkenan untuk hadir dalam perayaan tersebut. Dan terjadilah aksi melompat keluar jendela kamarnya dari  lantai dasar Rumah Lansia di kota kecil Malmköping.
Kisah perjalanan Allan Karlsson pun dimulai. Ia berjumpa dengan seorang pemuda anggota klub kriminal Never Again yang usianya terlampau 75 tahun lebih muda darinya di Terminal Bus Malmköping. Sang pria berniat menitipkan koper bawaannya kepada Karlsson sebab ia ingin pamit ke toilet namun sampai saat bus datang, pria itu tak kunjung keluar dari toilet. Karlsson pun memutuskan membawa serta koper tersebut bersamanya. Dengan bermodalkan uang 48 krona dan baju yang melekat di tubuhnya: ia naik bus menuju Stasiun Byringe. Dan situlah awal mula petualangan Allan Karlsson yang secara tak langsung mengantarkannya pada cerita masa lalunya sebagai orang berpengaruh di dunia.
Segalanya berawal ketika ayah Allan Karlsson pergi untuk selama-lamanya. Demi menopang roda ekonomi, pada usia 10 tahun ia pun memulai karir sebagai pesuruh bagian produksi di Nitroglycerine, Ltd. Tak lama berselang, 3 tahun kemudian ibunya pun menyusul sang ayah dan Allan mendirikan Karlsson Dynamite Company serta bereksperimen di tambang batu di belakang rumah. Pada usia 13 tahun ia telah menguasai keterampilan khusus membuat ledakan dengan mencampur nitrogliserin, nitrat selulosa, amonium nitrat, sodium nitrat, sekam, dinitrotoluen dan beberapa bahan lainnya.
Karlsson merupakan orang yang sangat berbakat di bidang perakitan bom. Hal inilah yang menjadikannya dapat berpetualang mengelilingi dunia sekaligus berurusan dengan orang-orang berpengaruh di dunia politik seperti Jenderal Franco, Soong May Ling, Truman, Stalin, Mao Tse-tung, Kim Il Sung, dan lain sebagainya. Namun sayangnya Karlsson bukanlah orang yang menyukai politik, –bahkan di beberapa bagian dalam novel pun ia akan secara otomatis berhenti mendengarkan ketika ada orang yang menguliahinya dengan tema politik. Ia juga bukan penganut idealisme maupun ideologi tertentu. Ia hanya sekadar manusia penuh humor yang mahir merakit bom. Ketidaksukaannya terhadap politik dan segala hal yang meliputinya pun selaras dengan kutipan di bawah ini:

“Balas dendam itu seperti politik, satu hal akan diikuti hal lain sehingga yang buruk menjadi lebih buruk dan yang lebih buruk akan menjadi paling buruk.” – Hlm. 89  
Pendeta dan politikus sama buruknya, pikir Allan, dan tidak ada bedanya sedikitpun jika mereka komunis, fasis, kapitalis, atau aliran politik apapun. – Hlm. 170 
Sering kali politik tidak hanya tidak penting, tetapi juga terlalu rumit untuk alasan yang tidak penting. – Hlm. 461

Selanjutnya, seperti yang telah disinggung di bagian awal, Jonas Jonasson juga menjadikan Indonesia sebagai topik pembicaraan di dalam novelnya. Jika anda orang Indonesia, tentu akan sangat merasa antara miris dan jengah dengan penjabaran dunia politik di Indonesia yang dikemukakan secara gamblang oleh sang penulis: tapi akan membenarkan apa yang dikatakannya. Seperti contoh tokoh Ni Wayan Laksmi (Amanda) yang tingkat kecerdasannya disetarakan dengan seekor kodok berniat berkecimpung di dunia politik padahal untuk membedakan antara vodka dan minuman pisang saja tidak bisa, tetapi sangat optimis menjadi gubernur Bali. Ataupun saat Karlsson dan rombongannya ingin berlibur ke suatu negara dengan membawa seekor gajah. Negara Swedia dan Jerman dengan tegas menolak sebab mereka harus memiliki sertifikat kepemilikan dan dokter hewan. Sedangkan Indonesia mengatakan ‘Dokter hewan? Untuk apa?’. Serba-serbi lainnya mengenai Indonesia juga terlukis pada kutipan-kutipan di bawah ini:

Suharto memburu orang-orang yang komunis, dianggap komunis, disangka komunis, kemungkinan komunis, sangat tidak mungkin komunis, dan orang-orang tak bersalah lain. Ini membuat roda ekonomi berputar, orang hidup lebih baik, dan terutama Suharto sendiri menjadi sangat kaya raya. Lumayan juga untuk serdadu yang mengawali karier militernya dengan menyelundupkan gula. –Hlm. 367-368 
 Selain itu, Bali dinilai oleh organisasi-organisasi hak asasi sebagai wilayah paling tidak korup di negara itu. Itu karena Amanda telah menyuap seluruh komisi investigasi. –Hlm. 366 
“Maaf, siapa nama depan Anda , Tuan Dolar?” “Seratus Ribu,” kata Allan. “Saya Tuan Seratus Ribu Dolar, dan saya minta izin untuk mendarat di bandara Anda.” “Maaf, Tuan Dolar, suaranya jelek sekali. Maukah Anda menyebutkan nama depan Anda sekali lagi?” Allan menjelaskan kepada si kapten bahwa petugas sekarang mulai tawar-menawar. “Nama depan saya Dua Ratus Ribu,” kata Allan. “Apa kami boleh mendarat?” –Hlm. 483 
“Indonesia adalah negara di mana segalanya mungkin,” kata Allan. –Hlm. 483

Kemudian setiap merampungkan sebuah novel, setidaknya akan hadir satu –atau lebih tokoh kegemaran, tokoh itu ialah Benny Ljungberg. Entah yaa, tokoh Benny pada novel ini begitu menarik perhatian (terutama bagi saya) karena karakter serta kisah hidupnya yang tak kalah seru dibanding Allan Karlsson. Faktanya, dalam kisah ini ia merupakan tokoh yang paling dapat diandalkan setiap kesulitan menerpa rombongan kriminal Allan Karlsson. Dipaparkan bahwa ia hampir menyelesaikan setidaknya sepuluh gelar akademis yakni dengan menjadi calon dokter hewan, calon dokter, calon arsitek, calon botanis, calon guru bahasa, calon pelatih olahraga, calon ahli sejarah, calon ahli sastra, serta beberapa calon lainnya. Ia juga sempat mengikuti kursus pendek dibeberapa bidang. Namun, meski Benny dapat dikatakan orang yang paling berpendidikan di Swedia, pasar tenaga kerja hanya tertarik dengan hasil nilai akhir ujian, bukan lamanya seseorang belajar. Hal itulah yang kemudian mengantarkan Benny menjadi seorang penjaga kios hot dog sebuah desa kecil di Åker.
Secara keseluruhan, novel ini merupakan novel sejarah yang dikemas dengan humor satir ditiap celah cerita. Tingkah Allan Karlsson yang cerdik dan (terlampau) jenaka tidak akan membuat jenuh ketika membacanya meskipun novel ini terdiri atas lebih dari 500 halaman. Saya pun mengamini komentar Helsingin Sanomat yang pada bagian sampul belakang novel mengatakan bahwasanya novel ini merupakan sebuah perayaan humor yang sangat absurd. Namun dari segi penampilan fisik, agaknya sangat disayangkan sebab kertas yang dipakai untuk halaman isi buku nampak terlalu tipis yang menjadikan saya berasumsi (saat pertama kali membuka buku) bahwa novel ini seperti buku palsu atau bajakan.  Ohiya, hampir terlupa, pada bulan Desember tahun 2013 novel ini juga sempat dialih wahanakan menjadi sebuah film berdurasi 114 menit dengan mengambil judul yang sama dengan novelnya.
Lebih lanjut, seperti yang kita ketahui, umumnya novel terjemahan memang (sangat) melibatkan begitu banyak tokoh demi membangun unsur cerita secara terperinci. Begitu pula dengan novel The 100-Year Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared. Berikut merupakan daftar tokoh yang terlibat dalam novel ini:

1.         Allan Emmanuel Karlsson        : Pria Usia 100 tahun
2.       Paman Carl                                     : Teman Ayah Allan di Lembaga Politik Petrograd
3.       Krook                                                 : Inspektur Polisi Flen
4.        Estebán                                            : Spesialis Penyulut Spanyol
5.       Profesor Bernhard Lundborg: Ahli Biologi Rasial Universitas Uppsala
6.       Harry S. Truman                           : Wakil Presiden Amerika
7.        Presiden Roosevelt                     : Presiden Amerika
8.       Robert Oppenheimer                  : Profesor Fisika dan Ilmuwan Militer
9.       Jenderal Franco                           : Sang Generalissimo
10.      Göran Aronsson                            : Inspektur Kepala Polisi
11.        Per-Gunnar Gerdin (Pike)        : Bos Never Again
12.      Erik Bengt Bylund (Bolt)            : Anggota Never Again
13.      Henrik Mikael Hultėn                  : Anggota Never Again
14.      Caracas                                            : Anggota Never Again
15.      Julius Jonsson                              : Penipu Ulung
16.      Benny Ljungberg                          : Pemilik Kios Hotdog (Mahasiswa Abadi)
17.      Conny Ranelid                                : Jaksa Eskiltuna
18.      Soong May Ling                            : Istri Pemimpin Anti-Komunis Kuomintang
19.      Mao Tse-tung                                : Pemimpin Komunis
20.    Ny. Eleanor Roosevelt               : Istri Presiden Roosevelt
21.      Jiang Qing                                       : Seorang Marxis-Leninis, Istri Ketiga Mao Tse-tung
22.    Ah Ming                                              : Pesuruh
23.    Kamerad Stalin                             : Pimpinan Uni Soviet
24.    Gunilla Björklund (Jelita)          : Pemilik Rumah Pertanian di Lake Farm
25.    Kevin Ferguson                              : Pendeta Angklingan
26.    Winston Churchill                         : Perdana Menteri Inggris
27.    Tage Erlander                                 : Perdana Menteri Swedia
28.    Dr. Siguard Eklund                        : Kepala Riset Atomic Energy PLC
29.    Yury Borisovich Popov               : Ahli Fisika Nuklir
30.    Larissa Aleksandrevna               : Istri Yury B. P.
31.      Marsekal Lavrenty P. Beria      : Bos Keamanan Soviet
32.    Herbert Einstein                             : Adik Tiri Albert Einstein
33.    Bosse Baddy                                     : Kakak Benny Ljungberg
34.    Frank (Frasse)                                 : Paman Benny dan Bosse
35.    Gunnar Löwenlind                           : Wakil Kepala Polisi Jönköping
36.    Kirill A. Maretskov                          : Komandan Pasukan Merah
37.    Kim Il Sung                                         : Perdana Menteri Korea Utara
38.    Kim Jong Il                                         : Anak Kim Il Sung
39.    Ni Wayan Laksmi (Amanda)        : Istri Herbert Einstein
40.    Lyndon B. Johnson                          : Presiden Amerika
41.      Fouchet                                                 : Menteri Dalam Negeri Prancis
42.    Charles A. J. Marie de Gaulle     : Presiden Prancis
43.    Claude Pennant                                 : Mata-mata Uni Soviet
44.     Ryan Hutton                                       : Direktur CIA Eropa
45.    Ronny Bäckman                                : Pawang Anjing
46.    Richard M. Nixon                              : Presiden Amerika Serikat
47.     Henrik Söder                                     : Petugas Dinas Sosial
48.    Soekarno                                             : Presiden Indonesia Pertama
49.    Soeharto                                              : Presiden Indonesia Kedua
50.    Susilo Bambang Yudhoyono       : Presiden Indonesia Keenam

Kamis, 12 Januari 2017

Ragam Bentuk Penindasan dalam Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer dengan Perempuan di Titik Nol karya Nawal El-Sadawi


Kesetaraan antara laki-laki dengan perempuan sejak zaman dulu sampai sekarang nampaknya masih menjadi topik yang tiada habisnya untuk diperbincangkan. Banyak perdebatan yang terjadi akibat ketimpangan antara perempuan dan laki-laki dari berbagai aspek. Berbagai perlawanan pun dijalankan pihak perempuan demi mengusir tindakan penindasan yang dilakukan laki-laki; mulai dari penindasan kebudayaan, penindasan pendidikan, penindasan norma, penindasan institusi pernikahan, penindasan hukum, dan lain sebagainya. Hal ini pun tergambar melalui novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer dan novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El-Sadawi.


Ragam bentuk penindasan terhadap perempuan yang dialami oleh tokoh perempuan di dalam kedua novel tersebut. Mulai dari penindasan dalam konteks kebudayaan yang sangat terlihat pada novel Gadis Pantai karya Premoedya Ananta Toer, di mana terdapat jarak antara Bendoro yang merupakan seorang Priyai dengan si Gadis Pantai yang hanya seorang hamba sahaya. Hal ini didukung dengan adanya kutipan berikut:

“Kemarin malam ia telah dinikahkan. Dinikahkan dengan sebilah keris. Detik itu ia tahu: kini ia bukan anak bapaknya lagi. ia bukan anak emanya lagi. kini ia istri sebilah keris, wakil seseorang yang tak pernah dilihatnya seumur hidup.”
(Gadis Pantai, hlm. 12)

“Kalau ada nasib, bapak suka jadi priyai?”
“Itulah yang dicitakan setiap orang.”
“Kalau bapak tahu bagaimana mereka hidup di sana...”
“Setidak-tidaknya mereka tak mengadu untung setiap hari. Setidak-tidaknya mereka tidak berlumuran kotor setiap hari.”
(Gadis Pantai, hlm. 181)

“Apa salahku?”
“Salah Mas Nganten seperti sahaya, salah kita, berasal dari orang kebanyakan.”
“Lantas Mbok, lantas?
“Kita sudah ditakdirkan oleh orang yang kita puji dan kita sembah buat jadi pasangan orang rendahan. Kalau tidak ada orang-orang rendahan, tentu tidak ada orang atasan.”
“Aku ini, Mbok aku ini orang apa? Rendahan? Atasan?”
“Rendahan Mas Nganten, maafkan sahayaa, tapi menumpang di tempat atasan.”
“Jadi apa yang mesti kuperbuat?”
“Ah, beberapa kali sudah sahaya katakan. Mengabdi Mas Nganten. Sujud, takluk sampai tanah pada Bendoro.”
(Gadis Pantai, hlm. 99)



Dari macam-macam kutipan tersebut, sangat terlihat perbedaan tingkat sosial antara Gadis Pantai dengan sang Bendoro yang seorang priyai yang merupakan orang kalangan atas yang mesti dihormati dan dilayani dengan baik. Seorang rendahan seperti Gadis Pantai hanya boleh manut pada apa yang dikehendaki oleh sang Bendoro. Tidak boleh menolak, apalagi melakukan perlawanan. Sama halnya dengan Firdaus, tokoh dalam Perempuan di Titik Nol yang berlatarkan di Negeri Arab. Hal ini di tergambar pada kutipan:

“Jika salah satu anak perempuan mati, ayah akan menyantap makan malamnya, Ibu akan membasuh kakinya, dan kemudian ia akan pergi tidur, seperti itu ia lakukan setiap malam. Apabila yang mati itu seorang anak laki-laki, ia akan memukul ibu kemudian makan malam dan merebahkan diri untuk tidur.
(Perempuan di Titik Nol, hlm. 26)

            Budaya patriarki di Negara Arab sangat tergambar jelas dari kutipan di atas. Firdaus yang di mana sejak masih belia hidup di tengah keluarga yang miskin, ia sudah disuguhkan dengan pemandangan bahwasanya laki-laki merupakan raja daripada istri dan anak-anaknya.
Lebih lanjut, kedua tokoh dalam kedua novel tersebut juga mengalami penindasan dalam hal pendidikan. Di dalam masyarakat, peran laki-laki dengan perempuan seperti di ‘kotak-kotakan’. Perempuan dianggap tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi karena pola pikir masyarakat yang menyimpulkan bahwa pada akhirnya perempuan hanya akan mengurusi urusan dapur. Pendidikan dirasa bukan merupakan hal yang penting bagi perempuan, maka dari itu banyak perempuan yang hanya memiliki pendidikan yang terbatas. Hal ini pun tergambar dari novel Gadis Pantai dan Perempuan di Titik Nol. Setelah membaca novel tersebut, kita akan mengetahui bahwasanya tokoh Gadis Pantai telah dinikahkan dengan Bendoro pada usia yang masih sangat belia, yaitu pada usia 14 tahun. Tak jauh berbeda dengan novel Perempuan di Titik Nol, tokoh Firdaus digambarkan hanya mengecap pendidikan dalam taraf sekolah menengah. Dan atas dasar ketidakmampuan paman Firdaus untuk melanjutkan pendidikan Firdaus, akhirnya Firdaus dinikahkan dengan seorang lelaki tua berumur 60-an yang bernama Syeikh Mahmoud. Sangat disayangkan, penindasan pendidikan yang terjadi pada kedua tokoh malah mengantarkan keduanya ke dalam penindasan baru, yaitu penindasan pernikahan.
Di samping itu, penindasan lainnya seperti penindasan norma, penindasan hukum, penindasan lelaki, dan ragam penindasan lainnya juga tersirat di dalam kedua novel tersebut. Pada akhirnya berbagai penindasan itulah yang menjadi acuan bagi kedua tokoh untuk melakukan perlawanan dalam menumpas dominasi budaya patriarki yang ada.
Namun sangat disayangkan, bentuk perlawanan yang dilakukan oleh Gadis Pantai dan Firdaus tampaknya tidak mengalami akhir yang menyenangkan. Setelah melahirkan, tiga bulan kemudian tokoh Gadis Pantai diceraikan dan dikembalikan pada kedua orang tuanya karena bayi yang dilahirkannya bukanlah bayi laki-laki, seperti yang selama ini didambakan Bendoro. Pun begitu pada tokoh Firdaus yang akhirnya harus menerima hukuman mati walaupun sebenarnya ia dapat mengajukan pengampunan. Namun ia lebih memilih mempertahankan harga dirinya. Ia tetap teguh pada prinsipnya yang mengatakan bahwa:


“Setiap orang harus mati. Saya lebih suka mati karena kejahatan yang saya lakukan daripada mati untuk salah satu kejahatan yang kau lakukan.” (Perempuan di Titik Nol, hlm. 169)

Perilaku Self Talk sebagai Refleksi terhadap Kehampaan Sosok Lansia dalam Novel Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway


Manusia terlahir sebagai makhluk sosial dan tidak dapat hidup dalam kesendirian. Segala aktifitas yang dilakukan tentunya akan melibatkan dan menimbulkan rasa ketergantungan terhadap orang lain yang bersangkutan. Ketergantungan dalam arti, di mana individu merasa memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi dalam melakukan interaksi di kehidupannya.

Merujuk pada judul esai di atas, siapa yang tidak mengenal sosok Ernest Hemingway? Tentunya nama itu sudah tidak asing lagi di telinga para penghuni bumi. Berbagai karyanya mendapat apresiasi yang menyenangkan, termasuk novel The Old Man and the SeaLelaki Tua dan Laut– (1952). Novel ini pernah memenangkan Hadiah Putlizer pada tahun 1953 dan Award of Merit Medal for Novel dari American Academy of Letters. Selain itu, novel ini juga telah menjadikan Ernest Hemingway meraih Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1954.

            Kembali lagi mengenai perilaku self talk, menurut ilmu psikologi self talk merupakan suatu kondisi di mana seseorang melakukan kegiatan berbicara dengan dirinya sendiri. Hal ini dapat terjadi lantaran individu yang bersangkutan tengah diliputi rasa sepi, depresi, ketidakpuasan, kebiasaan di masa lalu, ataupun adanya gangguan psikologis lainnya.

            Lebih lanjut, perilaku self talk yang ditimbulkan oleh Santiago dalam novel Lelaki Tua dan Laut merupakan refleksi dari rasa sepi dan cemas yang menghinggapinya selama ia bernaung di tengah laut untuk menangkap ikan. Ya, Santiago merupakan tokoh utama di dalam novel tersebut. Kisah perjalanan seorang lelaki tua untuk mendapatkan seekor ikan Marlin raksasa. Selama 87 hari berada di tengah laut, akhirnya seekor ikan Marlin hinggap di kail umpan sardennya. Namun kisahnya tidak sampai disitu, perjuangan membawa ikan Marlin ke rumahnyalah yang mengalami berbagai kendala. Dan selama perjalanannya sejak awal melaut sampai ia menuju ke rumah itulah Santiago mengalami perilaku self talk.

            Selanjutnya, perilaku self talk yang dialami oleh Santiago dikarenakan ia hanya pergi melaut sendirian. Perjalanannya hanya ditemani dengan debur ombak laut dan serba-serbi peralatan melaut di dalam perahunya. Selama perjalanan, ia selalu berbicara sendiri dan berharap agar Manolin –anak lelaki didekat rumahnya– ikut serta dalam perjalanannya tersebut. Hal ini didukung dengan banyaknya percakapan individu yang dilakukan oleh Santiago:

“Aku berharap anak lelaki itu ada di sini.” (hlm. 53)
“Andai saja aku bersama anak lelaki itu.” (hlm. 50)
“Aku berharap aku bersama anak lelaki itu.” (hlm. 55)
“Aku berharap anak lelaki itu ada di sini dan aku punya garam.” (hlm. 60)
“Jika anak lelaki itu di sini, dia akan menggosok tangan itu untukku dan mengendurkannya ke bawah dari lengan bawah.” (hlm. 66)
“Jika anak lelaki itu ada di sini dia akan membasahi gulungan tali. Ya. Jika anak lelaki itu di sini.” (hlm. 88)

Dalam beberapa percakapan individu di atas, dapat kita ketahui bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak dapat hidup sendiri. Segala hal yang dilakukan tentunya akan mengarah untuk bergantung pada orang lain. Rasa sepi akan kehadiran orang lain menjadikan Santiago hanya dapat berceloteh dengan dirinya sendiri ketika kesulitan melakukan sesuatu. Hal ini juga berkaitan dengan kutipan di bawah ini:

“Seseorang seharusnya tak sendirian pada usia tua mereka.” (hlm. 50)

Kebutuhan akan orang lain ini di alami oleh Santiago. Ia tampak menyesali keputusannya untuk berangkat sendiri menangkap ikan Marlin tanpa Manolin. Di usia yang sudah tidak muda lagi ini menyulitkannya untuk melakukan segala aktifitas di perahu.

Konflik batin pun dialami oleh Santiago dalam memecahkan berbagai masalah ketika menangkap ikan Marlin tersebut. Mulai dari perlawanan ikan Marlin yang bertahan sampai berhari-hari, juga kawanan Hiu yang mengoyak daging ikan Marlin hasil buruan Santiago. Dan pada akhirnya, sesampainya Santiago di rumahnya, ia pun berkomunikasi dengan Manolin dan menyadari bahwasanya aktifitas self talk yang ia lakukan selama ini bukanlah hal yang menyenangkan. Hal ini tergambar pada kutipan di bawah ini:


“Dia membatin betapa menyenangkan ada seseorang yang bisa diajak bicara dibandingkan hanya berbicara dengan dirinya sendiri dan laut.” (hlm. 133)

Minggu, 08 Januari 2017

Antara Nobel Sastra dan Sosok Tomas Gösta Tranströmer


(foto saat Tomas Gösta Tranströmer menerima penganugerahan Nobel Sastra)

Segala hal yang di lakukan dunia ini –apalagi jika hal tersebut dapat mengubah dunia ke arah yang lebih baik, akan terasa lebih menyenangkan jika mendapatkan apresiasi. Salah satu dari apresiasi yang sangat ternama di dunia ialah penghargaan Nobel atau akrab disebut Nobel Prize. Penghargaan Nobel ini pun bermula pada sosok Alfred Bernhard Nobel, ia merupakan seorang ilmuwan Swedia yang berhasil menemukan penemuan besar bagi dunia, yakni dinamit. Berkat penemuannya tersebut, ia mendapatkan limpahan kekayaan yang begitu besar namun sangat disayangkan, penemuannya disalahgunakan sebagai senjata pemusnah oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Atas dasar kekecewaannya itulah, ia mengalami penyesalan dan memutuskan untuk menghibahkan segala harta kekayaannya untuk orang-orang berdedikasi tinggi yang berhasil menciptakan penemuan yang bermanfaat bagi banyak orang atau mengubah dunia ke arah yang positif.
Pada tahun 1901, Alfred akhirnya mendirikan Nobel Foundation dan mulai resmi setelah ia menganugerahkan penghargaan perdana tersebut kepada 6 orang tokoh untuk 6 kategori, yakni dalam bidang Fisika, Kimia, Kedokteran, Sastra, Perdamaian, serta Ekonomi. Penghargaan tersebut dilakukan rutin setiap tahun dan diberikan setiap tanggal 10 Desember atau bertepatan dengan hari kematian Alfred Bernhard Nobel. Penganugerahan Nobel ini digelar di Stockholme Concert Hall, Swedia. Akan tetapi, penghargaan di bidang Perdamaian, penganugerahannya digelar di Oslo City Hall, Norwegia. Tentunya, karena Nobel Prize ini merupakan penghargaan yang bertaraf internasional, maka para peraih Nobel ini pun bukan sembarang orang. Seleksi para peraih Nobel ini melibatkan hingga 3.000 orang kaum intelektual yang berasal dari Lembaga Pemerintahan, Mahkamah Internasional, para Rektor, para Guru Besar, Lembaga-lembaga Penelitian, penerima-penerima Nobel sebelumnya, serta para anggota dari Nobel Foundation di seluruh dunia. Oleh sebab itu, proses pemilihan tersebut memakan waktu yang tidak sedikit, yakni satu tahun lamanya. 

Perihal Tomas Gösta Tranströmer

Dari sekian banyak kategori atas penghargaan Nobel, belakangan ini yang menjadi topik perbincangan hangat ialah penghargaan Nobel Sastra yang pada tahun 2016 yang diberikan kepada Bob Dylan.  Hal ini menjadi kontroversi bagi beberapa kalangan sebab menganggap Bob Dylan bukanlah orang yang berkecimpung atau bergelut di bidang Sastra. Ia bukan seorang penyair atau pun penulis, melainkan seorang Musisi. Dan yang lebih menjadi sorotan ialah sikap Bob Dylan yang menolak hadiah Nobel tersebut
.
Beralih dari kasus Bob Dylan yang sangat fenomenal, mari mundur sedikit untuk bernostalgia dengan peraih Nobel Sastra tahun 2011. Yang menarik dari sosok lelaki yang menerima hadiah Nobel pada usia senja ini ialah ia berasal dari Swedia. Ia lahir di Stockholm, Sweden tepatnya pada tanggal 15 April 1931. Walaupun atas kemenangannya itu ia berhak atas hadiah senilai 10 juta kron Swedia atau setara US$ 1,45 juta atas penghargaan Nobel yang diumumkan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia, ia merupakan peraih Nobel Sastra kedua yang berasal dari Swedia, yang sebelumnya pada tahun 1974 pernah di raih oleh Eyvind Johnson dan Harry Martinson. Alih-alih berasal dari negara yang sama dengan negara tempat penganugerahan nobel, Tomas Gösta Tranströmer tidak sedikit menuai cibiran yang kurang sedap didengar. Ada yang mengkritik terkait ketidakmerataan peraih Nobel yang sejak tahun 2011, 10 peraih Nobel Sastra terakhir berasal dari Eropa dan Tomas Gösta Tranströmer merupakan orang ke delapan. Namun, dilansir dari website resmi Nobel Prize, para dewan juri mengatakan bahwa alasan Tomas Transtromer menjadi peraih Nobel pada masa itu ialah “because, through his condensed, translucent images, he gives us fresh access to reality.” atau yang berarti “karena, melalui gambar-gambar ringkas, tembung pandang, ia memberi kita akses segar ke realitas.”. Sekretaris tetap di Swedish Academy pun, Peter Englund selaku yang menyerukan pengumuman peraih Nobel Sastra, membenarkan bahwa keputusan memilih orang Swedia sebagai pemenangnya telah dilakukan dan dipikirkan secara matang-matang.
Lebih lanjut, sosok Tomas Gösta Tranströmer sendiri sudah pernah masuk sebagai nominasi Nobel Sastra sejak tahun 1993. Namun baru mendapatkan penghargaan tersebut pada tahun 2011 setelah mengalahkan para sastrawan dunia terkemuka seperti novelis Haruki Murakami asal Jepang, Adonis dari Suriah, dan musisi Amerika: Bob Dylan.
Kabar mengenai Tomas Gösta Tranströmer atas kesuksesannya meraih Nobel Sastra pun nampaknya bukan sesuatu yang mengherankan, sebab puisi-puisinya telah diterjemahkan hampir ke dalam 60 bahasa dalam kurun waktu 5 dekade terakhir, ia pun kerap meraih berbagai penghargaan bergengsi lainnya, yakni Bellmanpriset (1966), Petrarca-Preis (1981), Neustadt International Prize for Literature (1990), Nordic Council Literature Prize (For the Living and the Dead, 1990), Swedish Academy Nordic Prize (1991), Horst Bienek Prize for Poetry (1992), Augustpriset (1996), Jan Smrek Prize (1998), Struga Poetry Evenings Golden Wreath (2003), Griffin Poetry Prize (The Griffin Trust, Lifetime Recognition Award, 2007), serta Title of Professor  (The Cabinet of Sweden, 2011).
Selain menjadi pegiat sastra –dalam hal ini puisi, Tomas Gösta Tranströmer juga seorang psikilog. Ia selalu mahir membagi waktunya antara kegiatan menulis dengan pekerjaannya sebagai seorang psikolog. Buku-buku puisi yang pernah ditulis olehnya, antara lain 17 Poems (17 dikter, 1954), Secrets on the Way (Hemligheter på vägen, 1958), The Half-Finished Heaven (Den halvfärdiga himlen, 1962), Bells and Tracks (Klanger och spår, 1966), Seeing in the Dark (Mörkerseende, 1970), Paths (Stigar, 1973), Baltics (Östersjöar, 1974), The Truthbarrier (Sanningsbarriären, 1978), The Wild Market Square (Det vilda torget, 1983), For the Living and the Dead (För levande och döda, 1989), The Sorrow Gondola (Sorgegondolen, 1996), Prison (Fängelse, Edition Edda, 2001 from 1959), dan The Great Enigma (Den stora gåtan, 2004).
Ia mulai dikenal khalayak pertama kali pada tahun 1954 melalui buku puisinya yang berjudul 17 Poems yang menjadi debut sastra terbaik pada dekadenya. Setelah menerima Nobel Sastra, ia pun semakin di kenal di kancah dunia internasional. Karya-karyanya yang penuh dengan metafora membuat orang-orang menggemari puisi-puisinya. Berbagai puisinya pun kerap menggambarkan alam Swedia yang dipaparkan melalui tema kematian, kenyataan, kesepian, penebusan, dan lain sebagainya. Secara keseluruhan, puisi-puisi karangan Tomas Gösta Tranströmer bercerita mengenai perjalanannya ke Balkan, Spanyol, dan Amerika, juga tentang keresahannya terhadap konflik Baltik yang dianalogikannya sebagai pertentangan antara lautan dan daratan.

Analisis Struktural Puisi National Insecurity
Dari sekian banyak puisi yang telah diciptakan oleh Tomas Gösta Tranströmer, ada salah satu puisi yang menarik minat untuk menganalisisnya dengan pendekatan struktural. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, puisi-puisi Tomas Gösta Tranströmer mengandung metafora yang dapat melahirkan berbagai tafsiran yang beragam bagi para pembacanya. Teori struktural sendiri merupakan pendekatan yang berlandaskan pada hubungan unsur-unsur puisi yang menjadikan puisi tersebut terstruktur.
Pendekatan struktural mulanya dipelopori oleh kaum Formalis Rusia dan Strukturalisme Praha. Sebuah karya sastra, puisi, menurut kaum strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur pembangunnya. Di satu pihak, struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah (Abrams, 1981:68 dalam Nurgiyantoro, 2007:36). Di pihak lain, struktur karya sastra juga mengarah pada pengertian hubungan antar unsur (intrinsik) yang bersifat timbal balik, saling menentukan, saling mempengaruhi, yang secara bersama membentuk satu kesatuan yang utuh (Nurgiyantoro, 2007:36).
Berikut merupakan salah satu puisi dari Tomas Transtromer yang berjudul National Insecurity yang dikutip dari ofiicial website resminya di https://tomastranstromer.net/transtromer-in-translation/poetry/. Puisi tersebut termuat dalam buku New and Collected Poems pada tahun 1997 yang diterjemahkan oleh Robin Fulton ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan oleh Bloodaxe Books.
  
National Insecurity
By Tomas Gösta Tranströmer

The Under Secretary leans forward and draws an X
and her ear-drops dangle like swords of Damocles.
As a mottled butterfly is invisible against the ground
so the demon merges with the opened newspaper.
A helmet worn by no one has taken power.
The mother-turtle flees flying under the water.

Struktur fisik puisi ialah unsur pembangun puisi yang nampak. Unsur-unsur itu terbentuk atas susunan-susunan kata yang ada di dalam sebuah puisi. Struktur fisik puisi terdiri atas diksi, citraan atau imaji, kata konkret, dan bahasa figuratif.
Diksi –merupakan pilihan kata yang digunakan penyair agar puisi yang diciptakannya memiliki nilai seni dan unsur estetika. Dalam puisi tersebut, Tomas Gösta Tranströmer menggunakan pilihan kata yang cukup rumit. Kata-kata yang digunakannya tidak langsung tertuju pada pesan yang ingin disampaikannya. Ia begitu banyak menggunakan metafora di dalam puisi National Insecurity ini.
Citraan atau imaji, adalah susunan kata-kata yang merupakan bagian dari pengalaman indrawi. Dalam hal ini, imaji dibagi menjadi tiga macam, yakni imaji penglihatan, pendengaran, dan imaji peraba. Di dalam puisi National Insecurity ditemukan adanya imaji penglihatan yang terdapat pada larik ketiga yang berbunyi /As a mottled butterfly is invisible against the ground/, larik kedua yang berbunyi /and her ear-drops dangle like swords of Damocles./, dan larik keenam yang berbunyi /The mother-turtle flees flying under the water./. Selain itu juga ada imaji peraba yang terdapat pada larik pertama yang berbunyi /The Under Secretary leans forward and draws an X/.
Kata Konkret, ialah kata yang dapat ditanggap oleh indera yang memungkinkan munculnya imaji oleh pembaca. Berikut ini adalah kata konkret yang terdapat dalam puisi National Insecurity: /draws/, /dangle/, /mottled/, /newspaper/, /helmet/, /flees/, dan /flying/.
Bahasa Figuratif atau bahasa kiasan merupakan unsur yang diciptakan penyair untuk memberi kesan puitis terhadap karangannya. Bahasa figuratif juga biasa disebut dengan majas. Dan di dalam puisi National Insecurity terdapat beberapa majas, yakni majas simile yang terlihat pada larik kedua yang berbunyi /and her ear-drops dangle like swords of Damocles./ di dalam larik tersebut telinga (ear) diumpakan sebagai pedang Damocles yang menjuntai dengan kata /like/. Ditemukan juga majas personifikasi yang terdapat pada larik ketiga yang berbunyi /As a mottled butterfly is invisible against the ground/ di dalam larik tersebut penyair menggambarkan manusia sebagai kupu-kupu berbintik-bintik yang tidak terlihat oleh tanah. Kemudian juga terdapat majas hiperbola yang terdapat pada larik keenam yang berbunyi /The mother-turtle flees flying under the water./ di dalam larik tersebut terlihat ada hal yang sangat dilebih-lebihkan, yaitu terbang di bawah air (flying under water).
Setelah menelaah mengenai struktur fisik sebuah puisi, hal selanjutnya ialah analisis struktur batin yang merupakan bagian tak kasat mata yang ada di dalam puisi. Struktur batin inilah yang berperan penting membuat sebuah puisi menjadi jauh lebih hidup dan membangun makna puisi tersebut agar tertangkap oleh para pembaca. Struktur batin puisi terdiri atas tema, rasa, nada, serta amanat.
Tema atau makna (sense) dalam puisi merupakan keseluruhan gagasan yang ingin disampaikan oleh sang penyair. Tema dalam puisi National Insecurity ialah mengenai politik. Hal ini dapat dilihat dari adanya kata-kata /The Under Secretary/ yang berarti wakil menteri dan /power/ yang berarti kekuasaan.
Rasa ialah sikap penyair yang diciptakan atas permasalahan yang ada di dalam puisi karangannya. Rasa atau feeling yang terdapat dalam puisi ini adalah pengungkapan rasa kekecewaan terhadap jajaran pemerintahan yang berlaku semena-mena karena memiliki kekuasaan.
Nada atau tone adalah sikap penyair terhadap pembacanya. Nada sendiri sangat berkaitan erat dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan puisi karangannya dengan nada yang didasari atas tema dan rasa yang terbentuk. Nada yang terkandung dalam puisi National Insecurity ialah nada kemarahan yang bercampur dengan kekecewaan atas sikap pemerintah.
Amanat merupakan pesan atau nasihat yang ingin disampaikan sang penyair kepada para pembaca puisinya. Pesan ini bisa ditangkap secara langsung maupun tersirat, tergantung oleh pemaknaan pembaca atas puisi itu sendiri. Dan di dalam puisi National Insecurity terdapat pesan bahwasanya suatu masalah tidak akan terselesaikan tanpa adanya perlawanan. Seperti Tomas Gösta Tranströmer yang melawan peristiwa kerawanan sosial dengan sebuah puisi. Puisi tersebut juga memiliki pesan bahwa kekuasaan mengambil peran penting dalam segala hal, terutama politik.

Daftar Pustaka

Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.


Tomas Tranströmer (the ofiicial website), 2011. Ten poems by Tomas Tranströmer, (https://tomastranstromer.net/transtromer-in-translation/poetry/ di akses pada 3 Januari 2017)


The Swedish Academy. 2011. The Nobel Prize in Literature 2011–Tomas Tranströmer, (https://www.nobelprize.org/nobel_prizes/literature/laureates/2011/ di akses pada 5 Januari 2017)